Laman

Kamis, 22 Agustus 2013

Maafkan aku paman!, kisah si Pencuri cilik


Maafkan aku paman!, kisah si Pencuri cilik.
Ya Tuhan,!! Tidak terlambat kah aku meminta maaf. Kini tangan yang sering aku kecup saat akan pergi jauh, semakin keriput. Langkahnya semakin terbatas daya ayunnya. Mulutnya semakin susah berucap, Apalagi daya pandang juga daya ingatnya, sudah pasti semakin kabur.
Maaf kan aku paman,! Maafkan kesalahan masa kecilku.

Halaman rumahnya tetap sama, pohon mangga dekat pintu pagar, meneduhi lapangan kecil tempat biasa kami belajar sepeda dulu. Pohon belimbing yang dulu pendek, kini sudah menjulang tinggi dan sering menimpuki orang yang lalu lalang di jalan dengan buahnya-dahannya merindangi jalanan depan rumah soalnya. Hanya cat rumahnya yang aku lihat berubah. Dulu orange jeruk, sekarang orange kesemek membusuk, kusam kecoklatan, entah apa warna asalnya. Setelah memasuki rumah, perabotannya tetap sama, lemari sepinggang yang diatasnya tertata tivi 21 inch, sofa santai yang sering aku gunakan menonton tivi juga masih terdiam merapat ke tembok membentuk sudut siku-siku dengan lemari. Dan lihat, rupanya gantungan baju itu masih ada di atas sofa. Seketika ingatanku melesat melompati ruang dan waktu, mengenang sebuah titik balik hilangnya sebuah candu di masa kecil dulu.

Bagiku, mencuri adalah candu. Mungkin sudah selevel candu merokok. Orang tua dengan pamanku memang sangat dekat. Saking dekatnya, aku sudah berani mencuri uang di rumah pamanku. Sering aku menunggu rumah hingga sepi, mengendap-ngendap kamar, meraba-raba saku baju celana ayah atau paman yang tergantung, melesakan tangan ke dalam tas ibu atau bibi, atau mengintip dibalik baju yang terlipat dalam lemari. Semua aku lakukan demi mendapat jatah uang jajan berlebih. Tidak pernah kah ketahuan?, owh tidak, ada trik-trik tertentu lah. Rumah harus selalu dalam keadaan sepi, ambil uang yang kecil aja (2 ribu, 5 ribu, paling gede 10 ribu, jangan lebih dari itu-nanti curiga).

Hari itu, candu mencuri ku sedang kambuh. Eskrim, ingin sekali aku membeli eskrim yang ada di iklan hari minggu pagi di indosiar. Aiihh,, detik berlalu begitu lambat rasanya, menunggu rumah yang tak kunjung sepi. Jelaslah ini hari minggu, semua pada rehat di rumah. Agak siang, karena tak tahan lagi aku memutuskan pergi ke rumah paman, barangkali disana sepi. Saat ku buka rumah paman, tidak ada orang. Pergi ke dapur, kamar mandi, ruang tamu, ketuk2 kamar, juga tidak ada orang. Senyum pun melebar sinis saat ku pandang celana bahan tergantung di atas sofa santai depan tivi. Lalu sambil berdiri di atas sofa, aku mulai menggerayangi setiap saku celana-berharap ada beberapa lembar uang ribuan disana.

“nyari apa mam?”suara berat mengagetkanku dari belakang, wajahku langsung terasa panas.
“aaa, nyari ,, euuhhh, gunting kuku pa”, jawabku gelagapan, kaget menatap mata paman yang sering aku panggil Apa’, panggilan yang sama untuk ayahku-saking dekatnya. ‘Bodoh,! Mana ada gunting kuku di saku celana,’ sesal ku dalam hati
“nih gunting kuku mah” ia menyodorkan gunting kuku dari atas meja, aku menerima sambil tangan gemetaran. Beginikah rasanya tertangkap basah, begitu susah menyembunyikan ekspresi bersalah.

Ku dengar paman mengehela nafas, lalu sambil duduk dia berkata lembut. “gak baik hen mencuri  itu,” belum selesaikan ia menasihatiku, aku sudah berlari keluar dari rumah paman, pulang, eh bukan, saat itu aku takut paman mengejar ke rumah, jadi aku pergi ke rumah teman, bahkan sampai menginap semalam disana.

Bagiku hari-hari setelah itu begitu merana, keluarga kami sudah sangat dekat, jadi yang namanya saling bersilaturahmi telah menjadi sebuah kebiasaan. Aku selalu menghindar saat paman maupun bibi sedang bertandang ke rumah, sebisa mungkin ngumpet malah, atau pergi ke luar rumah -entah kemana- yang penting gak ketemu paman. Baru saat malam-itupun kalo paman sudah tidak ada, aku berani pulang. Begitupun saat di ajak bertandang ke rumah paman, pasti aku menolak dengan alasan sakit perut lah, mau ngerjain PR lah dan alasan lainnya yang biasa dipikirkan anak berumur 10 tahun. Aku begitu tertekan, serasa menjadi buronan. Benar kata orang, punya kawan seribu masih sedikit dari pada punya musuh satu. Hampir dua bulan aku dan paman tak pernah secara langsung bertatap muka.

Perlahan aku mulai terbiasa menghindar, tapi masih selalu ngerasa bersalah. Jangan tanyakan tentang candu mencuriku lagi, pyuurr hilang sudah, tak berani lagi aku mencuri. Selepas pulang sekolah, seperti biasa aku langsung mengucap salam, lalu masuk ke ruang tamu-untuk menuju kamarku memang harus melewati ruang tamu. Tatapan itu, ya Tuhan, kenapa aku gak curiga tadi saat melihat sandal carvil kulit di teras rumah, itu kan sandal paman, dan kini paman menatapku sambil tersenyum, tersenyum?, masihkah paman mau tersenyum setelah sering kucuri uangnya?, ada ayah ibu disana, ya, pasti paman sudah cerita tentang kejadian itu pada mereka,

‘Hendi, sini kamu nak”ucap ibu memecah lamunan, sebenarnya ingin sekali berlari ke luar rumah, tapi badan dan pikiranku sudah lelah menghindar, lebih baik aku berterus terang dan meminta maaf, aku langsung mendekat dan duduk di samping ibu, masih tertunduk malu. Ayah bertanya padaku kenapa tidak mau ketemu paman lagi. Aku hanya bisa menjawab dengan mata berair dan gigi gemeretuk, tidak ada kata sikit pun yang keluar.

“Hendi, paman mau minta maaf telah ngebentak dan marahin Hendi, kacanya udah paman ganti, jadi udah gak apa-apa sekarang”, ucap paman memulai percakapan, aku bingung, ngebentak?, kaca?, apa yang paman maksudkan, mulut ku masih kelu bertanya.

“jadi kang Gufron, Hendi ini 2 bulan yang lalu mecahin kaca lemari di rumah, terus paman marahin dia, ngebentak dia, akhirnya Hendi ngerasa bersalah dan gak berani main ke rumah lagi, bahkan gak pernah mau bertemu paman”, ucapnya lagi, menjelaskan pada ayahku yang masih tidak ku mengerti.
“tuh Hendi, paman udah minta maaf, sekarang kamu yang minta maaf sana”ucap ibu sambil mengangkat daguku dengan tangannya, membuat ku lepas menatap paman beruban didepanku. Apa yang terjadi?, aku ingin menangis-tapi tidak keluar air mata, lalu dari mulutku gelagapan keluar kata permohonan maaf karena telah mecahin kaca-yang sebenarnya tidak pernah aku lakukan.  Setelah itu buru-buru aku masuk kamar, lalu tidur, berharap mimpi akan menghilangkan bebanku.

Seminggu setelah drama minta maaf paman, aku mulai berani mau diajak ke rumah paman, tentu masih harus bareng keluarga lah, tapi itu sudah menjadi kemajuan hubunganku. Aku juga tidak perlu lagi menghindar saat paman bertandang ke rumah. Lama-lama, kami pun sudah seperti biasa lagi, malah semakin dekat, semakin aku menganggapnya orang yang pantas aku hormati setelah ayah dan ibu. Paman pun selalu membantu keluarga kami, membantu aku masuk perguruan tinggi di Bogor malah dengan menyumbangkan uang tabungannya untuk biaya pendaftaran. Tak luput juga pernikahanku, ia begitu semangat mencari kan mobil pinjaman untuk arak-arakan ke tempat sang mempelai wanita. Semakin banyaklah jasanya yang tak mungkin bisa aku balas.

Sekarang, saat aku telah dianugrahi label seorang Ayah oleh Tuhan, aku berpikir bahwa kepergoknya mencuri masa kecil dulu oleh paman, adalah sebuah momen titik balik. Aku gak tau apa yang akan terjadi sekarang kalau Tuhan tidak menakdirkan aku kepergok nyuri, seperti yang aku bilang, saat itu bagiku nyuri sudah menjadi sebuah candu, pusing kalo sehari gak nyuri. Aku bersyukur Alloh memberi kesempatan sedari kecil menghapus kebiasaan burukku.

Oya, belakangan aku tahu, bahwa saat aku ditanya ayah kenapa menghindar dari paman, ayah dan ibu sudah tahu kalau aku mencuri di rumah paman. Mereka ingin aku sendiri mengakui kesalahan ku di depan ayah, ibu dan paman. Tapi sepertinya paman tidak tega melihat air muka ku yang berubah menjadi seperti kepiting rebus dan hampir mau nangis, ia rela berbohong demi aku, bocah yang tidak tahu diri.
Kini, diusianya yang ke 60, aku membisikan kata maaf itu, takut semuanya menjadi terlambat,

apa’, maafkan Hendi apa’, suka mencuri uang apa’, maaf Hendi baru berani mengakui sekarang”, aku langsung memeluknya, buncah tangis tak tertahankan lagi mengalir. Ia tidak berkata apa-apa, karena kata sudah begitu mahal untuk di ucap. Hanya tangisan serta balasan pelukan kerinduan yang ia lakukan, bak seorang ayah memeluk anaknya.

Mess putra no 4, LAJ JAMBI, 21 Agustus 2013


Ijinkan kupanggil adik ya naftalie?


Cerita ini juga gw buat awal tahun 2012, seperti cerpen gw lainnya, Cuma imajinasi semata, dan masih kacau tulisannya, tapi gw seneng bacanya, seperti yang gw bilang sebelumnya, melihat tulisan nya bertumbuh dari tahun ke tahun.
Ijinkan kupanggil adik ya naftalie?
Ada yang berbeda dengan sore ini, bukan karena langit memancarkan pesona keemasan menyisakan segaris cahaya matahari. bukan pula karena jalan laladon-kampus yang biasa dijejali angkutan umum tepat di sekeliling pabrik tekstil ato lebih dikenal pabrik susu sore ini aman lancar dan damai. Tapi karena sore ini ia akan berkunjung kerumah seseorang, yang akan ia anggap sebagai adik. Bukan adik kandung sih. Hanya seseorang yang mengerti akan dirinya, dekat dengan dengannya, dan selalu menghiasi hati dan hari-harinya.. Pacarr??? Owh bukan. Meski kadang bingung juga ketika orang-orang menganggap mereka pacaran. Bingung apakah ia sedang membohongi hatinya, atau memang yang ia butuhkan hanya kedekatan dengan seorang adik perempuan. Maklum, ia dilahirkan dari orang tua yang menurunkan gen laki-laki semua. Sudah dua tahun, dan ia senang datang kembali ke Bogor,

Ia Teringat saat pertama kali bertemu saat masa ospek dulu, dengan malu-malu seorang perempuan berkerudung hitam bersama teman seangkatanya mendekati ia yang sedang duduk dan mengobrol asik. Mau tak mau, ia mengalihkan pandangkan ke arah kerumunan perempuan tadi yang sudah berada didepannya. Ia tahu, mereka akan meminta tanda tangan dari senior sebagai salahsatu tugas ospek saat itu. Dari semua perempuan yang meminta tanda tangan darinya, hanya satu yang benar2 ia ingat nama dan wajahnya. Naftalie cristi arifin. Bukan karena wajahnya yang seperti daun sirih, putih mulus, mata agak sipit, hidung agak mancung dan bibir tipis, tapi karena ia menyandang nama cristi dan ia berjilbab. Mungkin ia dulunya Kristen, atau orangtuanya Kristen, ato entahlah pikirnya.
Malamnya, ada sms masuk dengan nomer belum ada di kontak hp.

Assalam mualaikum, kak hanif, saya naftalie, yang tadi minta tanda tangan, mau nanya kak, kalo ospek itu emang penting ya kak,? Ada temen yang gak mau ikutan ospek soalnya, makasih ka,
sambil berjalan dari kampus setelah seharian mengatur persiapan untuk ospek besok, ia kemudian membalas sms itu.

Wa alaikum salam, salam kenal naftalie, ospek itu bukan hanya penting, tapi wajib dilalui, pengalaman sebelumnya, orang2 yang tidak ikut ospek, biasanya akan terkucil di jurusan, jadi biasanya pergaulannya sedikit, dan nilainya pada anjlok, kasih tau temen mu, kalo ada masalah, segera hubungi kaka, biar gak dikucilin nanti.

Ada perasaan senang  ketika ia mengirim sms. Ia tahu, naftalie dapat nonya karena semua senior pasti menuliskan no hp nya saat dimintai tandatangan. Ah, Cuma sekali nge sms doang ko jadi ge er gini. Pikirnya dalam hati.

Dan anehnya setelah sms ospek tadi, ia dan naftalie malah jadi sering sms an, entah hanya menanyakan mata kuliah, pinjam buku, nanya dosen ini gmana, ujian di jurusan susah gak? hingga lama-kelamaan nanyanya malah sedang apa ka hari ini?, gimana kabar nya? ato kak, aku mau ke bioskop lo, mau ikut gak kak,?.
Aneh, dari awalnya nama panggilnya saya jadi aku atau naf saja, dari awalnya formal dan kaku, jadi akrab dan sedikit manja, ia malah dipanggil kak nif, bukan kak han seperti dulu, biar deket gtu nama panggilnya, nif naf, hehehe, senyum nafalie melebar saat bertemu beberapa waktu.

Kenangan itu melesat meletup letup dalam ingatan hanif, seakan dalam angkutan umum yang ia tumpangi ada parodi film yang sedang ia lihat. Lalu ia teringat lagi. Kenangan selanjutnya yang membuat perubahan dan penegasan apa yang ia dan naftalie harapkan.
“Kak hanif, besok temenin naf nyari buku ya,”
“sama siapa aja?”
“berdua aja ka?”
“jangan berdua dong, ramean aja, bis itu kita nonton, kaka yang traktir nontonnya deh”
“yah kaka mah,” selintas mulut naftalie terlihat datar,
“ya udah deh kak, nanti naf ajak desi sama lia ya”
“nah gtu dong, ya udah, kaka pulang dulu ya,ada yang mau dikerjakan”
“iya ka, hati-hati kesandung batu, janji di traktir nonton ya,, hehehe”
“iya cantiikkk”  mukanya bersemu merah, saat hanif mengucapkan kata tadi,

Besoknya, kami sudah berjubel naik angkutan umum untuk pergi ke mall yang ada toko buku dan bioskopnya. Hanif duduk disamping naftalie, lalu lia dan desi, tak henti-hentinya desi dan lia menggoda ia dan nafftalie sepanjang penjalanan, pasangan serasi lah, nanya ko ngajak lia dan desi lah padahal bisa berdua aja berangkatnya, ato “kak, traktir makan juga dong?”, celetuk desi. Gelak tawa menemani perjalanan mereka, lalu masih ia ingat, wajah naftalie yang agak memerah sepanjang perjalanan itu juga. Ya, ia mulai mengerti.

Mereka langsung mengunjungi tumpukan buku komik saat sampai di toko buku, terlihat desi dan lia asik mencari-cari buku komik yang tidak dibungkus plastik, artinya komik itu bisa dibaca ditempat tanpa harus membelinya.
“kakak melihat-lihat  buku pertanian dulu ya”
“aku ikut kak,” naftalie meninggalkan kedua temen nya yang sedang asik dengan dunia imajinasi dari buku komiknya.
“ia, nanti kami nyusul” ucap desi dan lia bersamaan tanpa memalingkan mata dari buku komiknya.
“kakak mau nyari buku apa?” tanya naftalie sambil ikut-ikut menggeser-geser buku sambil sesekali dilihat judulnya
“buku sawitnya iyung pahan, buat persiapan kakak taun depan ke Kalimantan”jawab hanif sambil tetap menggeser-geser buku
“lha, kakak mau ke Kalimantan?, berapa lama? Ntar naftalie sendiri dong?,gak mau ah.” Dengan mata tajam naftalie memandang hanif yang masih asik mencari buku sawitnya.
“kan ada desi sama lia, ada mamamu juga, ada leni, dan kita masi bisa telpon-telponan,” hanif abaikan tatapan mata naftalie
“naftalie gak mau kak, naftalie senang disamping kakak, naftalie,,,,, naftalie” ucapan nya terhenti,,
“naftalie kenapa” hanif mulai menatap mata naftalie yang menunduk
“naftalie sayang kakak” pelan, tapi masih terdengar,

hanif sudah menyangka akan seperti ini jadinya, cepat atau lambat, tapi ia adalah seorang laki-laki yang memegang teguh janjinya, ia berjanji pada ayahnya, bahwa ia tak akan pacaran sebelum menikah, dan ia juga tak akan meninggalkan solat, sunah maupun wajib. Dua janji itu yang selalu ia pegang saat pertama kali merantau dari tasik ke bogor, untuk bersekolah. Dua janji itu yang kini menyumbat mulut hanif untuk bilang “kak hanif juga sayang naftalie”, terlalu besar jasa seorang ayah untuk dilanggar janjinya.
“maaf naftali, kakak juga sayang naftalie, tapii….”kata hanif kelu
“tapi apa ka” wajah naftali menyiratkan keingintauan dan kepastian
“tapi kakak sayang naftalie hanya sebatas teman, atau kalo boleh lebih, sayang seorang kakak terhadap adiknya, maukah naftalie jadi adik kaka?”
“Gak Mau!, naf pengen kakak sayang naf, sebagai seorang kekasih kak, jangan sebagai adik” mata naftalie mulai berkaca, dan kata-katanya tegas.
“gak bisa naftalie, gak bisa” mata mereka masi bersitatap tajam
“kenapa kak? Kenapa kak?, apakah karena sudah ada wanita lain dalam hidup kakak” satu dua tetes air mata mulai meluncur membasahi pipi lesung nya.
“gak ada naftalie kecuali ibu, hanya kakak gak bisa menjadi kekasih naftalie, ada alasan yang tidak bisa dijelaskan sekarang”
“aku kecewa ka, aku kecewa sama kakak, kakak gak gentle, kakak pengecut gak mau jelasin alasan nya, aku pulang kak!” lebat sudah pipi naftali oleh rembesan air matanya
“naftalie,? Kenapa?, “ serempak lia dan desi menghampiri ia dan naftalie,
“kak hanif, kakak apain naftalie samping nangis gini?” desi memeluk naftalie dan menatap wajah hanif
Tebata-bata hanif berkata “ kakak ha.. hanya menjawab pertanyaan naftalie” matanya gak berani menatap tatapan tajam desi
“ayo Pulang!, “ isakan naftalie mulai memantik perhatian pengunjung lain
“Ya udah, kita pulang naf, “ lia yang sudah disamping naftali menggandengnya dan mulai keluar dari toko meninggalkan  hanif yang masih mematung di depan rak buku pertanian.

Semenjak itu, naftalie, pasti menghindar jika bertemu hanif, sebenarnya hanif ingin mengsms atau menelpon, atau menjelaskan semuanya ketika ada kesempatan bertemu, ia terlalu kerdil, dan kekerdilan itu telah memuncak setelah 2 bulan. Akhirnya ia putuskan untuk mendatangi rumah naftalie, karena kampus sudah mulai libur .

Ia ingat, saat pertama menemukan rumah naftalie yang tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kecil, pagar dengan cat hijau, serasi dengan taman yang selalu dirawat, taman nya sih tidak besar, tapi siapapun yang melihatnya pasti akan mengatakan, kayaknya romantis duduk di kursi memandangi taman bunga ini.

“ASSLAMUALAIKUMM, “ ucap hanif setengah berteriak.
“waalaikum salam, cari siapa? “ terlihat seorang ibu tidak berkerudung, dengan kalung salib di lehernya.
“saya hanif bu, ini rumah nya naftalie ya bu?, naftalinya ada? Ucapku sambil melongokan ke atas pagar yang tingginya sedada
“iya, wah naftalinya lagi ke supermarket, ayo masuk, minum teh dulu sambil nunngu naftalie pulang” ibu itu membukakan pagar dan menyalami hanif.
Dalam ruang tamu yang juga sederhana, tidak banyak perabotan, hanya ada cat orange, kursi dan meja, lukisan seorang pria, dan bunga dari bambu dipojok ruangan setinggi perut orang dewasa, kesan nyaman dirasakan hanif saat itu.
“kamu hanif kakak kelasnya naftalie ya? Naftalie sering cerita “ ibu itu yang belakangan biasa dipanggil bu sarah membuka percakapan sambil menyodorkan segelas teh dan setoples kue coklat.
“iya bu, kakak kelas nya hanif,  emang naftalie cerita apa aja bu?”

Belum juga terjawab pertanyaan hanif, teriakan salam terdengar dari luar. Tak sabar, hanif menebak kalo itu memang naftalie, dan gelisah ia menunggunya. Dan benar, ternyata itu naftalie
Sebenarnya naftalie langsung tau kalo tamu yang datang adalah hanif, motor dengan plat no sudah naftalie kenal, tapi ia malah nyelonong dan langsung pergi ke dapur. Kalo saja gak ibunya panggil, pasti naftalie tidak mau bertemu hanif.
“ibu ke dapur dulu yak, ayo hanif, cicipi kue coklat nya, naftalie lho yang bikin” ibu mempersilahkan hanif sambil bergegas ke dapur.
“ngapain kak kesini?, aku uda punya pacar sekarang ka”naftalie mulai membuka mulut
“terserah naftalie sudah punya pacar ato belum, yang jelas, kakak mau jelasin kenapa waktu itu, didepan toko buku pertanian kakak gak bisa jadi kekasih naf”
“gak penting ka,mending kakak pulang deh, bikin tambah sakit aja ngeliat kakak” ketus dan matanya tidak berani menatap hanif
“menurut kakak ini penting naf, okeh, setelah ngejelasin ini, kakak akan pulang, ijinkan kakak jelasin dulu nif, biar tenang, sebelum kakak pergi ke Kalimantan minggu depan, besok mau ke tasik, jadi harus sekarang naf”
“katanya tahun depan, dasar pembohong, yauda cepet jelasin” naftali mulai menatap hanif
Hanif agak terenyuk juga saat dibilang pembohong, ada alasan kenapa kepergiannya ke Kalimantan dipercepat. Tapi bukan mau ngejelasin itu Ia datang ke sini. Dengan tulus, hanif menatap naftali sebelum ia mengalihkan tatapannya ke langit2. Ia lalu menarik nafas dalam-dalam dan mulai bercerita.
“ini mengenai janji laki-laki naf, janji seorang anak terhadap ayahnya, 2 janji yang selalu kak nif pegang sampai sekarang, walau ayah ka nif sudah tiada sebulan yang lalu”
“innalillahi wainnailahi rajiun. Maaf aku, naf ikut berduka, naf gak tau kalo, “ naftali mulai berpikir, ko ia  sampai gak tau, wah, pasti saat itu ka hanif sedih banget, setau ia, kak hanif sebulan yang lalu sidang skripsi, pasti berat kondisi nya saat itu, dan naftali gak ada disampingnya,,,ia mulai iba pada lelaki di depannya.
“yasudah, memang gak ada yang dikasih tau, itu juga alasan kenpa pergi ke Kalimantan dipercepat, gak mau menyusahkan ibu setelah kepergian ayah, ingin mandiri malah harus sudah bisa memberi” hanif menarik nafas dalam2 lagi
“oya, seperti yang ka nif katakan, ini mengenai janji, dulu sebelum merantau ke bogor, ayah mengatakan, hanif, ingat kamu harus berjanji untuk tidak pacaran sebelum nikah, dan jangan sekali-kali meninggalkan solat, dua janji itu naf, yang menyumbat mulut kakak untuk bilang kak hanif juga sayang naftalie”
“berarti kak han sayang naftalie juga dong?”
“ia, sebagai kakak kepada adiknya”

Sebenarnya naftalie tau, kak hanif juga sayang pada nya, sebagai seorang kekasih tentunya, tapi kak han  memaksa mengganti makna sayang itu menjadi seperti sayang terhadap adiknya, ya sudah lah, toh naf juga sudah punya pacar, barangkali dengan menjadi adik nya kak hanif, bisa sedikit meringankan beban nya.
“okeh deh kak, naftali ngerti, naftalie mau jadi adik kakak,”
Hanif seketika itu juga tersenyum, ingin ia memeluk naftalie, tapi ia langsung teringat ayahnya,
“makasih ya naf, ”
“iya sama-sama”
“ya uda, kakak pulang dulu, mau siap-siap ke tasik, pamit ke ibu ya”
“lha ko cepat-cepat, gak kangen apa 2 bulan gak komunikasi, hehehe, “
“kangen si, nanti dah, sebelum ke Kalimantan, kakak pengen ngabisin waktu seharian sama naftalie, mau kan? Hanif senang dengan senyum indah naftalie,
“iya telpon aja nanti,”
“ibunya gak diajak nih? hehe“ ibu naftali menghampiri kami dan menyodorkan setoples kue
“ini buat keluarga dirumah,katanya mau ke tasik besok”
“iya bu, makasih banyak”

Dan hari ini ia akan bertemu kembali dengan keluarga naftali, 2 tahun sudah ia di kalimantan, dan 2 tahun juga naftalie bisa menjadi adik angkatnya hanif, menghiasi hidup hanif dengan ocehan dan sms pengingatnya, menghibur nya disaat kena marah bos, ato menangis saat tau ia sakit dan tidak ngasi kabar. Meski hanya lewat sms dan telpon, namun semua terasa indah. Baiklah, semoga tuhan menakdirkan kami selalu seperti ini pikirnya.

Bogor, Maret 2012

gw, lu dan kholif



Cerita ini gw buat awal tahun 2012, saat gw sama sekali belum pernah ke semeru dan ke rinjani. Tulisannya sih masih kacau-baru belajar nulis, yang jelas saat itu kayanya gw pengen ngebuat cerpen ala traveler dah. Dan satu lagi, gw seneng ngelihat tulisannya bertumbuh dari tahun ke tahun, 

Gw, lu, dan kholif
Terdengar suara indah menyapa telingaku, sayup-sayup tapi jelas kata-kata yang terucap. Melukis sejuta warna dalam otak kananku, menginterpretasikan makna dibalik momen ini. Sepanjang jalan kenangan dari Glenn fredly bersuara dari mp3 playerku.

Oke, aku akui, aku kangen padamu saat ini. Entah seberapa besar batinku merasa tersiksa sejak kejadian itu. Kejadian yang menjadi awal dari perpisahan kita. Sejenak aku merenung, membayangkan wajahmu saat menjitak kepalaku di jalan itu. Tidak sakit, memang jitakkanmu adalah manipulasi dari tanganmu yang ingin membelai rambutku. Dan aku tertawa. Pura-pura tidak mengerti.

Perlahan kabut mulai turun. Bebas ku lukis wajahmu dengan tinta awan putih diatas kanvas langit biru. Cahaya mentari menghangatkan wajahku yang merona merah saat ingat kau pernah jatuh gara-gara kutinggalkan motor tanpa kuturunkan standar. Dan kau tersenyum manja menyalahkan aku yang seharian memboncengmu keliling pasar. Aku hanya bisa minta maaf sambil ngeles gak merasa bersalah. Berharap kau terus tersenyum manja. Biasa tapi lucu.

“yok zen, kita turun sekarang. Semua uda beres dikemas” ucap teman naik di gunung Guntur ini.
“sip,lewat jalur kita naik kan turunnya?” tanyaku sambil berdiri dan mengangkat ransel.
“yoi, eh  lu dari tadi gw perhatiin senyum-senyum sendiri, inget cewe ya?
“entahlah, setiap gw naik gunung, gw inget seseorang mulu, seseorang yang selalu semangat jika gw ajak naik gunung, dan gak pernah ngeluh saat ia kecapean ato manja saat ia kedinginan”
“hebat banget tuh cewe, cocok tuh lu jadiin pacar”
“sekarang dia uda gak ada boy, gw nyelakain dia”
“maksud lu?”
“dia meninggal karena kecapean saat pulang dari semeru dulu, dia gak bilang kalo dia lagi sakit saat gw ajak ke semeru. Dia juga biasa aja saat naik, begitu perjalanan pulang dia pingsan dan jatuh dengan kepala membentur batu”
“astajim, sory ya boy, pasti tuh cewe sayang banget ama lu, sampai demi deket ama lu, dia rela sakit-sakitan nemenin lu naik gunung”
“entahlah, yang jelas, gw selalu ngerasa bersalah, makanya gw selalu naik gunung untuk ngelepas rindu gw”
“sip lah, lu pasti nemu lagi yang terbaik, yok turun sekarang”

Bertiga kami menuruni gunung Guntur yang terkenal tandus ini pas sore hari. Kenapa sore hari?, karena sepanjang perjalanan setelah curug citiis jarang sekali ditemukan pohon. Jalan berkerikil, tumbuhan alang-alang yang menyemak, pohon pinus yang jarang-jarang, dan puncak yang semakin tinggi didaki semakin banyak berbohong. Dikira sudah dekat, ternyata ada puncak lain lagi. Membuat para pendaki tidak sabaran mencapai puncak.

Diperjalanan kami juga bertemu dengan pendaki lain baik yang sedang beristirahat sebelum turun gunung, atau berpapasan ketika pendaki lain baru naik gunung. Semua saling menyapa seakan sudah pernah bertemu. Bukan sok kenal, tapi alam yang menyatukan kami. Menyamakan kondisi kami dan membuat kami saling mengerti. Begitu juga dengan rombongan yang baru naik ini. Sambil beristirahat, kami berkenalan dengan pendaki yang ternyata berasal dari Jakarta, mereka berlima, dan satu orang lagi masih tertinggal di curug Citiis untuk mengambil persediaan air. Memang hanya di curug Citiis-lah persediaan air terakhir gunung Guntur ini.

“nah tu dia datang”salah satu pendaki yang baru kami kenal berkata sambil menunjuk kearah jalan setapak.
Deg,,,,
jantungku seakan mengerti akan kecemasan saat kulihat seseorang keluar dari semak-semak. Berkacamata, badan tegap, kaos oblong, dan celana kargo.
“a deki?” suaraku terdengar parau saat ku tatap wajahnya.
“lu ngapain disini” jawab a deki saat melihat ku
“hanya melepas kerinduan terhadap seseorang”
“owh,, jadi kalian udah pada kenal” ucap temen nya a deki mencairkan suasana.
“jelas, gw kenal banget sama ni bocah, dia yang ngebunuh adik gw”
“gw gak bunuh adik lu!, gw Cuma gak tau kalo adik lu sakit saat gw ajak ke semeru”
“bullshit, harus nya lu tau, adik gw lagi sakit, lu malah ngajak dia naik gunung. Gak nyadar lu bunuh adik gw”
“JADI MAU LU APA?” akhirnya gw membentak a deki dengan muka geram.
“gw mau lu ke semeru, dan lu bawa adik gw kembali”
“okeh, gw akan ke semeru minggu depan, tapi gw Cuma mau ziarah ke nisan adik lu, Karena gw bukan tuhan, gw hanya bisa berdoa untuknya, gw tau lu gak bakal maafin gw, tapi gw minta ama lo, jaga harapan adik lu yang ingin banget naik rinjani, buktikan lo sayang ama dia, buktikan kalo lu bisa mewujudkan cita-cita adik lu, walaupun dia sudah gak ada, tapi cita-cita dia akan ikut di setiap langkah lo saat ke rinjani”
“rinjani?”
“Ya, rinjani, adik lu pengen banget ke rinjani, jadi setelah gw ke semeru minggu depannya lagi gw bakal ke rinjani dan teriakin nama dia di puncak rinjani.  gw gak akan ngerasa bersalah lagi”
“ok, gw juga akan ke rinjani, tapi demi cita-cita adik gw”
“okeh, ayo sep kita berangkat lagi” seraya menoleh pada teman ku yang bernama asep.

Sepanjang perjalanan pulang, di dalam kepala terus berpikir bagaimana mencari uang untuk pergi ke semeru dan rinjani dalam waktu dekat ini. Beruntung kedua teman ku berbaik hati mau menamani saat pendakian semeru dan rinjani nanti. Walau mereka juga belum tau dari mana dapat uang untuk membiayai perjalanan kami.
sepanjang jalan kenangan, kita selalu bergandeng tangan,
sepanjang jalan kenangan, kau peluk diriku mesra
hujan yang rintik-rintik, diawal bulan itu,
menambah nikmatnya malam syahdu

lagu sepanjang jalan kenangan dari yuni shara menemani perjalanan pulang ku dari Garut menuju Bogor. Antara tidur dan tidak, antara sadar dan tidak, yang jelas aku hanya ingat senyuman nya dikantin kampus saat melihat aku datang menjemputnya. Biasa tapi lucu.

***
Seminggu sudah kami mencari sponsor untuk mendanai ekspedisi kami. Ekspedisi menaklukan 5 gunung tertinggi di Indonesia selama dua bulan. Dan beruntung kami didanai oleh perusahaan pembuat alat-alat petualang terkenal dari luar negeri. Jelas, pasti mereka terarik mendanai ekspedisi kami. 5 gunung tertinggi dalam dua bulan oleh mahasiswa. Cocok untuk bahan promosi di kalangan mahasiswa maupun kawula muda yang semakin besar partumbuhan pasarnya. Namun, bagi ku, pendakian ini adalah bentuk tanggung jawabku atas perasaan bersalah terhadap seseorang. Juga kakaknya.

Sesuai rencana, pendakian pertama adalah gunung tertinggi di Jawa - Gunung Semeru. Setelah melakukan 
perjalanan selama dua hari dari kota Malang, kami bertiga dan dua orang dari sponsor sampai di danau Ranukumbolo. Kenangan itu seakan berkelabat memenuhi rongga pikiranku. Disini, seseorang yang kupanggil Kholif, tiba-tiba berwajah pucat, tersenyum getir menatapku, setengah berlari mencoba menggapai tanganku, namun tidak sampai. Dia terjatuh dengan kepala menghantam batu. Berdarah dan aku panik. Secepat mungkin kubangunkan tubuhnya yang terasa dingin. Masih terngiang dalam telingaku apa yang dia katakan. “Rinjani”. Aku hanya bisa tercengang saat itu, tidak memperdulikan kedua temanku yang mulai memeriksa keadaan tubuh nya. Tidak memperdulikan tatapan simpati dari pendaki lain yang mulai mengerubuti kami. Terdengar salah satu pendaki dengan telpon satelitnya memanggil petugas pos pendakian. Karena keterbatasan alat transportasi. Kami hanya bisa menunggu jemputan petugas yang mulai naik.
Setelah mengucap doa bersama teman sependakian di tempat ini. Kami melanjutkan perjalanan untuk mencapai puncak semeru. Kawah gunung yang masih mengeluarkan debu dan asap hitam membuat kami terpana melihatnya. Rencananya kami akan mendapatkan sunrise di puncak, membiarkan kedua orang dari sponsor kami mengambil apapun yang mereka inginkan dan setelah itu kembali lagi ke ranukumbolo untuk ngecamp semalam sebelum perjalanan pulang.

Dari kota Malang, kami bertolak ke Banyuwangi menggunakan bis. Dari Banyuwangi menumpang kapal feri menyebrang ke Bali. Di pantai Kuta kami beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan menuju gunung tertinggi di kepulauan Sunda kecil-gunung Rinjani. Selanjutnya perjalanan akan kami lanjutkan dengan menumpang mobil sewaan ke pelabuhan Bali dan menumpang speed boat menuju Lombok tepatnya daerah Gili Trawangan. Dari sana kami akan membeli keperluan dan memulai pendakian.
“eh zen, A deki jadi ngikut ke Rinjani kagak” tanya agus, salah satu teman ekspedisi.
“gak tau tuh. Kalo emang dia serius menyayangi adiknya, dia pasti datang ke Rinjani.” Jawabku seperlunya.
“lu gak ngehub dia zen?, barangkali dia mau naik bareng” tanya asep, menoleh beberapa saat dan melepaskan pandangan lagi ke arah pantai.
“kagak lah, ngapain gw hubungi dia, toh dia juga pasti ngajak temen-temennya.”

Betiga kami menghabiskan sore di pantai Kuta. Menatap 47 detik sunset tanpa pernah bosan. Semua punya lamunan masing-masing, dan aku, mencoba melukis wajahnya dengan semburat jingga yang mulai meredup di langit sore ini. Dua teman kami lainnya sibuk mengotak atik notebook nya. Mereka sibuk mengirim laporan perjalanan dari Semeru kemaren. Mengirim foto-foto karya mereka. Begitupula foto sunset sore ini. Berhasil mereka rekam untuk menambah bahan iklan mereka.

Tepat pukul 08.00 kami sudah sampai di Gili Trawangan. 1 jam sudah mengendarai speed boat dari Bali.  Berbekal peta jalan dan bekal seperlunya. Kami mulai melanjutkan perjalanan mendaki gunung berapi kedua tertinggi di Indonesia. Untuk mencapai puncak gunung ini bisa dicapai dari desa Sembalun dan desa Senaru yang bisa di akses dari kota Mataram. Kedua jalur tersebut adalah jalur normal yang sering dipakai oleh pengunjung yang akan mendaki.
“kata petugas pendakian, kemaren ada satu orang dari Jakarta yang naik gunung rinjani” ucap asep menghampiri dan mengambil botol air dari tas ranselku.
“dari Jakarta? jangan-jangan?, A Deki?”
“iya mungkin”
“tapi mana mungkin dia nekad naik Rinjani sendirian, ah pasti orang lain”
“gak penting siapa yang naik, yang penting kita selesaikan ekspedisi ini, yuk lanjutin perjalanan”

Setelah 8 jam perjalanan, kami tiba di danau yang paling terkenal dari gunung Rinjani, danau Sagara Anak.  
Danau berwarna biru dikelilingi oleh puncak gunung-gunung kecil. Sampai sekarang disini masih banyak ikan jika mau memancing. Karena hari ini bukan hari libur, jadi tidak terlihat pendaki lain selain kami di sekeliling danau ini. Rencananya kami akan bermalam disini dan melanjutkan perjalanan keesokan harinya.

“Permisi, Permisi, Mas, Bang Tolongin Saya” terdengar suara dari luar tenda dan menggerak-gerakan tenda.
“siapa itu?” tanyaku menyahut suara dari luar tadi
“saya Deki dari Jakarta bang, saya kehabisan makanan, boleh minta sedikit untuk perjalanan pulang”
“deki”, tanpa banyak berpikir, langsung kubuka resleting tenda, lalu kusorotkan senter pada seseorang berjaket dan berkacamata. Aku mengenalnya. Dialah A Deki,
“A Deki, ngapain sendirian disini” tanya ku lalu menyodorkan roti padanya. Tadinya dia canggung mau mangambil roti dari tanganku.
“ini ambilah, lupakan masalah pribadi, ini gunung, kita harus saling membantu untuk bertahan”
Dia pun mengambil roti dan langsung memakannya.
Aku langsung menyalakan api unggun dari sisa semalam. Jam menunjukan pukul 1 pagi. Dan dari wajahnya, dia terlihat kelelahan.
“maafin gw zen, gw egois, gw baru nyadar, di gunung bisa terjadi apa aja dan kapan aja kepada kita,”
A deki mendongak melihat langit penuh bintang.
“ya sudah, gak papa, yang penting kita bisa bertahan dan saling membantu dalam keadaan  sesulit apapun, gunung yang menyatukan kita dan menyamakan kondisi kita, lu baru pulang dari puncak?, kenapa malam2”
“gw lupa masukin makanan kemaren pas naik. Gw Cuma bawa air 1 liter dan roti dua bungkus. Saat nyampe puncak, gw cari-cari di ransel kaga ada sedikitpun makanan. Karena gak tahan lapar, gw pulang malem-malem berharap ada pendaki lain yang mulai naik,”
“ko bisa lupa?”
“mungkin karena pikiran gw lagi kesal zen. Kagak ada temen gw yang bisa gw ajak ke Rinjani. Mereka semua sibuk dengan urusan masing-masing. Karena gw udah janji sama lu dan adik gw, gw maksa naik Rinjani sendirian, dan buat gw gak terlalu memperhatiin persiapan logistik. Oya zen, boleh gw minta betadine ama perban?”
“kenapa lu?, niih”, ku sodorkan betadin, alcohol, tissue dan perban kearahnya.
Ku perhatikan dia membuka sepatunya dan menyingsingkan celananya.
“coba lu senterin ke arah sini zen”sambil menunjuk ke pergelangan kakinya, A Deki meringis menahan sakit.

Terlihat luka sobek pada pergelangan kakinya. Sepertinya luka itu didapat karena terjatuh dan kakinya pasti menghantam benda tajam seperti dahan pohon atau batu. Dan kalau dia telat mendapat perawatan, maka kakinya akan terkena infeksi. Dia harus segera turun ke kota Mataram pagi ini juga untuk mendapat perawatan.
“kapan lu dapat luka ini?”
“tadi malem gara-gara gw terpleset di lereng yang banyak pohon pinus, senter gw abis, lupa gw charge, jadi gw ngeliat seadanya, kalo gak balik sekarang gw kelaparan, balik sekarang senter abis, untung gw liat api unggun kalian, jadi gw memberanikan diri turun malem-malem”

Dari dalam tenda menyembul teman-teman ku yang baru bangun karena mendengar suara obrolan kami.
“A Deki, kenapa kaki lu? Tanya Asep dan Agus melihat luka dai kaki A Deki yang baru di bersihkan
Mereka hanya bisa ikut merasa menahan sakit yang tidak mereka derita sembari mengernyitkan kening.
“gw harus pulang sekarang zen, gw takut kenapa-napa dengan luka gw,”suara A Deki memecah keheningan di pagi buta itu.
“tapi lu gak bisa pulang sendiri kan, lu gak bakal bisa dan gak bakal kuat, harus ada yang nemenin lu turun” sergah agus masih memandang luka A Deki.
“gw mungkin gak bisa, tapi gw harus nyoba,kalian gak usah hawatir, gw uda sering naik gunung, dan perasaan gw sekarang lebih tenang”
“baiklah, gw yang akan nemenin lu, agus , asep, kalian lanjutin ekspedisi ini dan temenin temen2 sponsor sampai puncak Rinjani. Gw tunggu kalian di kota Mataram.”
“gak usah zen, gw bisa sendiri ko, gak enak kan lu ninggalin sponsor kalian.”
“denger A Deki, gw gak mau ngulangin kesalahan gw kaya dulu, gw akan sangat ngerasa bersalah biarin lu sendirian turun gunung dengan keadaan seperti ini. Dan gw bangga ama lu yang rela naik gunung rinjani sendirian demi memperjuangkan cita-cita adik lu,”

A deki lansung menunduk mengiyakan aku yang akan menemaninya turun gunung. Setelah berpesan pada Asep dan Agus apa yang harus dilakukan, berkemas bawang bawaan seadanya dan pamit kepada dua orang sponsor yang baru bangun. Agus langsung menjelaskan pada mereka apa yang terjadi. sekarang, ketua tim diserahkan pada agus, sambil tergopoh-gopoh membopong A Deki, kami bergegas berangkat pulang. Jika keadaan seperti ini, perjalanan membutuhkan sehari semalam. Di kota mataram kami akan langsung mencari poliklinik terdekat untuk mendapat perawatan.

“lu gak jadi ke puncak dong zen?”
 “yang penting abang nya udah mewujudkan cita-cita adiknya nya kan, kalo gw, nanti bisa kesini lagi kapan-kapan,”
“tau gak zen, dulu gw pengen banget naik gunung Cuma kita bertiga, lu, kholif dan gw”
“dan keinginan lu udah terwujud A Deki, gw, lu dan kholif” sambil gw letakian telunjuk gw di dada A Deki
“dia ada disini, di hati kita masing-masing”
                                                                                                                                   Bogor, maret 2012

Kedewasaan



Ini juga cerita dibuat tahun 2009,  mungkin udah satu semester di asrama TPB IPB, tulisan ini tercecer di kertas map kuliah gw, dari pada nanti ilang, mending gw ketik-tanpa edit, jadi punya bukti bahwa tulisan kita bertumbuh ya da?, setelah gw baca, kayanya ini kenangan masa kecil gw dah, jadi fakta dong ya. Mungkin. Yang jelas gw perlu dua kali baca cerita ini ampe mengerti maksudna, hahaha,

KEDEWASAAN,
Semilir angin dengan lembutnya menyisir rambutku yang belum kurapikan, burung-burung memanjakan telingaku dengan kicauan suaranya yang merdu. Pohon-pohon dengan gemulainya menari melawan belaian angin sepoi-sepoi, menerbangkan serangga-serangga yang dari tadi mencoba untuk hinggap di dahan kekarnya. Langit yang begitu cerahnya ikut memberikan sentuhan eksotis dalam kanvas alam ini. Tak luput juga bau dedaunan yang diterbangkan angin membuat hatiku damai dan tentram. Kata teman-temanku melihat pemandangan dari dalam jendela kamar asrama adalah hal membosankan. Bagiku, pemandangan itu merupakan potret kehidupan masa kecilku, dimana aku tumbuh menjadi anak yang harus kuat dan menyatu dengan alam.

Desa kecilku terletak di kabupaten Garut Jawa barat. Walaupun tidak seterkenal Bandung dan Jakarta, Garut adalah kebanggaan terbesar keluarga kami. Ayahku adalah orang banten. Kata orang, banten adalah tempatnya ilmu hitam, tapi menurutku, Banten adalah kota dimana aku mendapat identitas sebagai keturunan orang besar. Semua kakek buyutku adalah orang hebat. Ayahku sering bercerita tentang kelihaian kakekku yang bergelut dengan 9 harimau memperebutkan sebuah cincin mustika, dan kakekku adalah pemenangnya hingga ke 9 harimau tadi takluk. Karena itu, Ayahku selalu mengajariku tentang pentingnya beladiri dan kemampuan memanfaatkan alam.

Sejak kecil, aku selalu diajaknya untuk ikut pergi ke hutan, sekedar mencari kayu bakar atau memancing sambil berenang di sungai deras. Tapi sekarang sepertinya hal itu tidak pernah terjadi dengan adik-adikku. Peralatan serba otomatis menggeser kegiatan masa kecilku.

Ketika libur sekolah, aku selalu menyempatkan diri untuk bisa berpetualang menyusuri perkebunan dan hutan di desaku, tepatnya di bawah kaki gunung Cikuray. Disana ada jembatan yang menurut kakekku dibuat oleh orang belanda, hingga sekarang jembatan itu disebut sasak walana (jembatan belanda). Di jembatan inilah tempat aku selalu berteriak sekencang-kencangnya untuk menghilangkan penat setelah ujian sekolah.
Waktu itu seperti biasa, ketika libur sekolah dasar, aku dan teman-temanku merencanakan bermain ke sasak walana. Semua barang-barang dari mulai nasi timbel, pisau, bahan2 untuk membuat rujak dan sebagainya sudah tersedia di tas kami. Orang tua juga sudah merestui kami yang haus akan petualangan. Dan seperti biasa pula, ketika pulang kami selalu kompak untuk berenang di kolam ikan yang ada di kampung sebelah. Tanpa lepas baju, tanpa lepas celana, kami langsung melompat tak ada beban. Setelah air kolam menjadi keruh barulah kami berhenti, itu juga kalau tidak ada pemilik kolam yang selalu sedia dengan lidinya memukul-mukul kami ketika bermain riang di kolam. Kami pun pulang ke rumah masing-masing dengan keadaan sungguh mengenaskan, baju super kotor, badan super bau, dan pengalaman super seru. Hanya itu kegiatan weekend kami para petualang cilik desa.

Waktu pun telah berlalu, kini aku menjadi sosok yang tak pernah ku bayangkan, sosok yang dulu kuanggap sangat menjengkelkan karena sering memarahi anak kecil, sosok yang tak mau menganggap anak sebagai orang yang sederajat, inilah aku. Pemuda yang merindukan cinta, kasih sayang dan petualangan. Sering kali ku pikir, apakah aku siap menjadi dewasa, apakah aku siap dengan keseimbangan fisik, mental dan ilmu yang ku raih. Hanya satu jawaban yang selalu memenuhi isi kepalaku, aku harus siap dengan segala yang akan terjadi dengan kedewasaanku. Karena itu akan mengantarkanku menuju sebuah asa yang selalu ku kejar, asa yang selalu terbang dari pohon keberhasilan ke pohon keberhasilan yang lain.

Masa kanak-kanak menuju dewasa adalah proses alamiah manusia, siapapun itu akan mengalaminya. Tapi sering kali dalam tahap-tahap perubahan masa itu selalu dibarengi dengan gejolak jiwa, gejolak ingin dianggap sebagai seorang pemuda yang sudah siap dengan amunisinya. Dan ini tidak terlepas dari dukungan orangtua yang mengajariku berdiri.

Angin, burung, daun, pohon dan langit yang berawan putih adalah jembatan bagi pikiranku untuk menerawang hal yang telah terjadi, baik itu perubahan kedewasaan atau petualangan hidupku. Karena keadaan ini bisa menghadirkan memori yang telah lama ku pendam yang bisa menguatkan jiwaku. Walaupun dulu aku tak mengerti apa yang terjadi di relung hatiku, kini sedikit demi sedikit ku kumpulkan kunci-kunci yang salah satunya akan mengantarkanku menuju masa depan. Mungkin orang lain tak akan mengerti. Tapi buatku, semua yang terjadi adalah air yang mengalir yang arah dari air itu kita yang mengatur. Seperti system irigasi yang apabila kita mengalirkan airnya ke arah yang benar, yaitu ke sawah, maka air itu menjadi berkah bagi kita dan orang lain. Jadi apa yang terjadi buatlah seperti saluran air, dimana itu semua menjadi berkah bagi kita dan orang di sekeliling kita.

Perlahan burung menghilang dari pandangan mata, menandakan aku harus pergi mencari kepingan masa depan yang harus kususun. Read Kuliah.
Asrama putra TPB IPB, 5 Maret 2009

surat sahabat



Ini, surat yang gw buat tahun 2008 untuk diri gw sendiri, sebagai pengingat gtu


Teruntuk        

Sahabat sejatiku.,,


Bismillahirrahmanirrahiemm,,

Saat kau resah, saat kau rindu akan kebahagiaan, saat kau bimbang, maka bacalah surat ini, insya Alloh akan menyembuhkan penyakit hatimu,

Berdoaalah pada Alloh agar Ia selalu melimpahkan rahmatnya untuk kita semua, dengan menyebut nama Alloh, bertasbihlah pada Nya. Hanya Ia, Tuhan yang bisa memberikan manfaat dan madharat bagi kita.
Wahai sahabatku, engkau adalah harapanku, engkau adalah ragaku, tanpamu, aku hanya seonggok jiwa tanpa asa. Oleh karena itu, jangan buat diriku menangis, jangan kau sakiti aku, tapi buatlah aku bahagia saat kau meninggalkanku kelak.

Sahabat, jangan kau sia-siakan umurmu, jangan kau rela tubuh yang Alloh amanahkan padaku ternodai oleh kesalahan2mu, aku menangis melihat mu terus lupa pada tuhan pencipta kita, ingin sekali ku menamparmu, agar kau ingat, aku selalu ada di hatimu, dan suatu saat aku akan meninggalkanmu menuju keabadian.
Bersimpuhlah padanya wahai sahabat, nyatakan semua kegundahan hatimu, akuilah semua kekhilafanmu, selagi aku masih bersamamu. Dan jika kau tidak mau, ingat, “AKU YANG AKAN MENANGGUNG SEMUA PERBUATANMU”, kauu,,,, hanya seonggok daging yang akan hilang dimakan cacing belatung, kau akan lenyap bersama tanah yang kau pijak sekarang. Tapi lihat aku, aku akan memepertanggung jawabkan semua perbuatanmu, semua dosa-dosamu, semua jerih payahmu, tak inginkah kau lihat aku bahagia saat kita berpisah nanti?

Sahabat, hidup di dunia ibarat ketika kita bertamu ke rumah seseorang. Kita tidak bisa melakukan apapun sekehendak kita, kita harus selalu menghormati yang punya rumah. Untuk itu, mulai dari detik ini SADARLAH, jangan kau terus terlena dengan gemerlap duniawi, kembalilah wahai sahabat, kembali seperti yang dulu, kembali kita lantangkan suara kita untuk menyambut seruan dari sang pencipta.
Mari sahabatku, kita satukan tekad, kita satukan tujuan, yaitu mendapat keridhaan dari Nya untuk setiap langkah kita, agar kita selamat di dunia dan akhirat.

Jadi jangan sampai kau Tergoda lagi, jangan sampai keluargamu menangis karena kebodohanmu. Ingat satu hal, sahabat. Di pundakmu ada beban berat yang dititipkan keluargamu, sahabatmu, guru-guru mu, jangan kau sia-siakan amanah ini.

Ayo sahabat, mari langkahkan kaki kita diiringi Alquran dan Assunnah agar kehidupan kita mendapatkan rahmat dariNya,

LANTANGKAH SURAMU, BUAT DUNIA BERGETAR,
TETAPLAH JADI DIRIMU
YANG SELALU INGAT PADA ALLOH SWT,
Asrama Putra TPB IPB, September 2008
From your soul

Janji di hari lebaran



Cerita ini gw buat tahun 2008, saat gw baru masuk IPB dan tinggal di asrama, awalnya tulisan ini tercecer di kertas map kuliah gw, sayang banget kan kalo bukti pertumbuhan tulisan kita ilang, jadi gw ketik-tanpa di edit, biar masih dapet rasa gw di umur segitu. Kalo menurut gw, focus cerita nya masih kabur, maklum si ya baru belajar nulis,
Janji di hari lebaran
                “Allohu akbar, Allooooohu akbar” suara panggilan solat membahana di seluruh penjuru langit, mengumandangkan kalimat-kalimat Tuhan yang dari zaman Rasululloh hingga zaman sekarang ini tidak pernah berubah. Sayup-sayup sang raja siang meninggalkan kekuasaannya untuk digantikan sang dewi malam.
“sungguh lukisan alam yang luar biasa, Alloh pasti menyenangi keindahan, buktinya ciptaannya begitu indah dan luar biasa”, gumam Lindra sambil memegang pundakku. Kami bergegas turun dari pohon mangga tempat biasa melihat sunset kesukaan kami.

Lindra adalah teman yang sudah kuanggap sebagai saudara sendiri. Wajah lugunya tidak mencerminkan pengetahuannya yang seluas galaksi bimasakti. Orang tidak akan menyangka bahwa Lindra adalah juara umum di sekolah kami dulu. Tapi karena masalah ekonomi, membuat kami tidak bisa melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Selama setahun, kami harus bekerja keras mencari uang untuk mewujudkan cita-cita kami, harus menjadi mahasiswa perguruan tinggi negeri terbaik tahun depan. Itulah janji kami sebagai pelajar Indonesia dibawah rindangnya pohon mangga.

Kami pun berlarian sambil memegang nampan bekas wadah kolak yang selalu kami jual keliling kampung selepas salat ashar, hanya itulah yang dapat kami lakukan setelah seharian membantu ibu di pasar. Sepanjang perjalanan kurasakan ada hal yang mengganjal, kulihat Lindra tersenyum-senyum memikirkan keuntungan penjualan kolak kami yang selalu sukses tiap hari, seluruh kampung tau kelezatan kolak ibuku. Bahkan pa Bupati terkesan dengan kolak ibu hingga minta dibungkus untuk dibawa ke rumah saat ada acara di kecamatan.

Aku pun berbuka puasa di rumah Lindra yang sederhana. Walaupun kami makan hanya dengan nasi ditemani ikan asin dan sambel, kami tidak pernah merasa kekurangan. Karena nasehat orangtua nyalah yang mengajarkan kami bahwa kenikmatan terletak bukan pada banyaknya makanan, tetapi pada bagaimana kita mensyukuri apa yang ada pada diri kita, dan nasihat itulah yang sukses menghipnotis kami hingga bisa menikmati makanan seadanya ini.

Selepas solat tarawih, aku langsung pulang ke rumah. Rasa khawatir yang dari tadi menggangguku perlahan menghilang ketika aku sampai di rumah dan melihat ibuku sedang membereskan meja makan. Sejenak beliau menatapku dalam-dalam. Sorot matanya tajam penuh arti. Naluri seorang anak mengatakan bahwa ibu ingin menyampaikan sesuatu yang penting, namun rasa lelah membuatku ingin cepat-cepat masuk kamar dan merebahkan tubuhku.

Suasana hening perlahan menyelinap ke lubuk hatiku, daun-daun yang berjatuhan mewarnai kejadian alam yang terlukis dalam kanvas kehidupan. Matahari yang malu-malu beranjak ke peraduannya menyisakan sinar merah yang menyorot di ufuk barat, dipadukan mozaik langit malam yang perlahan mendominasi jagat raya. Burung-burung beterbangan riuh rendah ikut memberi ekspektasi menarik pada lukisan alam ini.

“Assalamualaikum,” terdengar suara indah menyapaku dari belakang. Aku langsung membalikkan badan sembari mengucap salam untuk melihat siapa yang tadi menyapa. Muncul lah sesosok wanita muda berbalutkan jilbab hijau yang membuat lelaki manapun tidak rela memejamkan matanya walau hanya untuk berkedip. Ketika melihatnya, sinar matanya jernih menandakan ia selalu menjaga kesucian pandangannya. Senyumannya tulus menghiasi wajah lesungnya.
“suamiku, engkau telah pulang, ciumlah keningku, aku sudah lama menunggu kedatanganmu” katanya lembut mengagetkanku.

Siapa dia?, mengapa dia ada di hadapanku?, mengapa sorot matanya membuat jiwa ingin terbang memegang tangan lembutnya melintasi angkasa raya, apakah dia bidadari yang Alloh ciptakan untukku?. Tunggu, aku masih kecil, umurku baru 19 tahun, belum saatnya bagiku memikirkan seorang pendamping hidup.
Deg, deg,,suara detak jantungku jelas terdengar saat ia perlahan mendekatiku. Langkah kakinya ringan seperti sedang berjalan di atas awan. Jantungku berdegup semakin kencang bak seorang anak kecil baru belajar memukul beduk. Tubuhnya yang setinggi pundakku terlihat begitu jelas, senyumannya, pandangan matanya, wajah ayunya, membuat hatiku meleleh seperti lilin terbakar.
Dibalik lengan jilbabnya yang panjang, ia mengeluarkan sebuah cincin, kemudian menyerahkannya padaku. Rona merah terlihat di kedua pipinya, tersipu malu saat melihatku. Ku ambil cincin itu. Hatiku protes saat bibirku tak bisa bergerak untuk menanyakan kenapa cincin itu diberikan padaku. Saat ku coba memakainya,
“KAKAAAAKKKK!” teriak adikku membangunkan tidurku,
“kak, bangun kak, ibu kenapa tidak bisa dibangunin, kita kan mau sahur, ade pengen makan telur ceplok kak”
“ayo kita ke dapur, kita masak telurnya, mungkin ibu lagi sakit, jadi biar kakak saja yang masak”

Setelah selesai masak, aku beranjak membangunkan ibu di kamarnya. Ku lihat ibu berkeringat dingin dengan senyuman khas di wajahnya yang memancarkan cahaya walaupun sinar lampu belum dinyalakan. Aura dingin yang menyelimuti kamar sontak membuat hatiku berdebar. Tangannya yang kasar karena selalu bekerja menghidupi keluarga setelah kematian ayah kami 3 tahun lalu masih memegang tasbi. Balutan mukena yang masih beliau kenakan membuatku bertanya-tanya, “tidak biasanya ibu tidur sebelum mengganti mukenannya”

“bu bangun bu, kita sahur sama2 ya, walau ibu sakit, ibu harus makan sahur supaya kuat puasanya” bisikku sambil menggoyang-goyang lembut tubuhnya. Bingung karena tidak ada respon, ku raba pergelangan tangannya tidak ada denyutan. Rasa cemas menggelayuti tubuhku, ku coba tuk menguatkan pikiranku dan secepat kilat pergi ke luar rumah untuk memanggil mantri yang tinggal tak jauh dari rumahku. Sambil terengah-engah ku ketuk pintu rumahnya sembari mengucap salam
“waalaikum salam, ada apa ya?” terdengar dari balik pintu sembari membuka pintu,
“pak, tolongin ibu saya pa, denyut nadinya berhenti, apa yang terjadi dengan beliau pak?”

Pak mantri langsung bergegas ke kamarnya untuk mengambil peralatan medis, tanpa berkata apapun ia langsung memboncengku naik vespa tahun 70 an yang masih terawat. Secepat kilat kami sampai di rumah.
Sesampai dirumah, adikku ketiduran di meja makan. Telur ceplok yang aku buatkan belum ia makan, mungkin kelamaan menunggu hingga ketiduran. Pak mantri langsung aku ajak memeriksa ibu, mimik mukanya yang dari tadi dingin tidak berubah, dengan parau ia menjelaskan kalau ibuku telah meninggal. Hatiku pilu mendengarnya, bintang-bintang yang selalu aku dan Lindra lihat seakan berjatuhan menimpa kepala ku, beribu pedang seolah ditusukan ke ulu hatiku. Dunia seakan sepi sendiri. Matahari dan bulan yang selama ini menjaga dan mendidikku kini telah lenyap. Ingin ku menjerit sejadi-jadinya. Ingin ku menangis sekeras-kerasnya. Ku rasakan dekapan hangat dari pak mantri seperti seorang ayah mendekap anaknya. Air mata yang sedari tadi bercucuran ia hapuskan, pandanganku kabur, ku lihat remang-remang wajah pak mantri yang seperti wajah ayahku perlahan menghilang, brukkk, aku sudah tak ingat lagi.

Saat ku coba membuka kedua mata, ku teringat wajah ibu. Tanpa memerdulikan pusing di kepala, ku berlari ke ruang tamu dan melihat banyak orang sudah berkumpul. Mereka menatap penuh iba. Adikku termenung melihat foto ibu di dinding, terlihat jelas di kedua matanya bekas menangis semalaman. Tatapan tertuju pada foto ibu, tak terasa air mata kembali mengalir deras, lalu terdengar suara Lindra memanggil dari belakang. Aku gak peduli, toh tuhan pun gak peduli akan kesedihanku. Aku ingin  melampiaskan semua kesedihanku dengan berlari dan berlari. Beban berat seakan menghantam kepalaku, pusing yang tak tertahankan dan mual membuat ku terjatuh tak sadarkan diri.

Semilir angin membelai rambutku, daun-daun berjatuhan dari pohonnya, matahari perlahan tenggelam membuatku teringat akan mimpiku dulu. Jangan-jangan perempuan yang dulu juga ,,tanpa sempat melanjutkan kata-kata, ku lihat ibuku yang perlahan mendekatiku, laki-laki yang disampingnya pasti ayahku. Senyuman khasnya tak pernah ku lupakan, suara takbir menggema di seluruh tanah ini, mereka memelukku dengan penuh kasih sayang sambil mengajak ku bertakbir bersama. Ku cium kedua tangannya yang halus, jantungku bergetar saat melihat perempuan berjilbab hijau itu datang lagi dan mencium kedua tangan orang tua ku.

“dia adalah tanggung jawabmu kelak, dan cincin itu sebagai buktinya” ayahku yang tau isi hatiku berkata lirih menatap kami berdua, gugup bercampur bingung menyelimuti hatiku. Cincin yang dulu perempuan berjilbab hijau itu berikan, kini terpasang di jemariku, kulihat cincin yang sama juga terpasang di jemarinya.
“sekarang kami harus pergi, jagalah adikmu dan jangan pernah tergoda oleh setan yang terkutuk”.
Takbir yang membahana, di seantero langit membuatku terbangun, ku lihat diriku terbaring di atas kasur berbau obat, adikku, Lindra tertidur pulas di sofa rumah sakit. Setelah subuh, aku langsung bisa pulang setelah dokter memeriksa ku kembali, biaya perawatanku di tanggung keluarga jauh, sesampai dirumah, saat aku membuka pintu, takbir dari sahabatku, warga desa dan keluargaku menyambut kepulanganku, ku lihat Lindra tersenyum kecil padaku,

Di hari lebaran ini semua berbahagia merayakan kemenangan orang islam, setelah berjamaah solat idul fitri, di mesjid kebanggaan kampung kami, aku Lindra dan adikku pergi ke makam orangtuaku,  ayah ibu, aku akan menjaga anakmu dengan seluruh tenagaku, inilah janjiku di hari lebaran,
Asrama putra, 2 september 2008

Minggu, 18 Agustus 2013

Real backpacker to Sawarna beach: Punya berapa babeh kita? Part 2 - the last

Pagi-pagi kami sudah harus sarapan, karena dari sini kaki dipaksa melangkah mungkin hingga beribu ayun. Kami akan ke pantai Sawarna hari ini juga, tidak perduli hujan, tidak ada mobil atau pesawat terbang sekalipun (ini mau kemana sih?). Karena rencananya nanti malam kita harus sudah pulang ke Bogor-Rencananya. Gw tetep bagian masak tim ini, dibantu Gilang dan Imam khoiri. Sule dengan teliti memotong sayur2 yang kami bawa sambil sesekali di tegur Ravi karena dari tadi Sule terus icip-icip mie yang kami masak. Mending kalo sekali icipnya, ini 5 kali mah ada. Bang Rokhman setelah mencari kayu bakar langsung merenung kembali menatap lautan.

Eh, disini gw mau berbagi tips membuat makanan enak yang berhasil gw temukan saat perjalanan ini. Namanya sandwich mie ala imam. Cara bikinnya.
1.  Siapkan bahan-bahan : 2 roti tawar, susu kental manis, mie yang sudah dimasak-lebih enak ditambahin sayur-sayur seperti wortel.
2.  Ambil roti tawar, lalu lumeri dengan susu kental manis
3.  Masukan mie bersayur wortel ke atas roti yang sudah diberi susu
4.  Beri susu lagi diatas mie lalu tutup pake roti tawar satunya lagi.
Jangan ngaku backpacker kalo belum nyoba makanan ini, hahaha, serius enak lho, mungkin kalian di rumah bisa mencoba dengan rasa mie yang lain, mie ayam, mie goreng, mie sambal ijo, mie kari ayam, dll.

sandwich mie ala imam

 Saat kami akan berangkat melanjutkan perjalanan, tiba2 hujan deras sekali turun. Jadi ingat ucapan gw tadi, tidak perduli hujan kan mam?, hahaha. Untunglah kami bawa raincoat, terjaaanngggg!!!!. Setelah hampir 1 setengah jam berjalan, melewati belokan yang akan ke sawarna, ingat lho ya, dari Bayah nanti akan ada pertigaan, kalo belok kanan berarti ke sawarna, dan kalo terlanjur lurus berarti ke pelabuhan ratu (gak dapet sawarna kalian). Hujan masih tetap deras, perut kembali keroncongan-tadi cuma sarapan mie doang euy. Beruntung ada seorang bapak meneriaki kami maling, eh salah meneriaki kami untuk berteduh dulu di rumahnya. Kami semua yang memang sudah kedinginan, langsung berlarian menuju rumah bapak itu

Dari logat bicaranya jelas dia orang jawa, kalo gak salah dari banyumas. Hidup berdua dengan istrinya dan tahulah kami, bahwa itu bukan rumah ‘aslinya’, melainkan tempat mereka berteduh kala hujan, beristrirahat kala cape selepas meladang di dekat situ. Ya memang banyak ladang sawah disini. Didalam nya hanya ada satu kamar, gudang pupuk, dapur dan toilet. Kami berkumpul di teras rumah sambil menyeruput kopi panas yang disuguhkan istri bapak itu. Lagi-lagi gw lupa nanya nama mereka, ya sudah kita panggil bapaknya dengan sebutan Babeh 3 dan istrinya. Seakan mereka mengerti, tidak dinyana istrinya yang tadi rela hujan-hujan untuk pergi ke warung-agak jauh lho warungnya, rupanya membeli mie dan memasakannya untuk kami berenam. Rezeki memang tidak boleh di tolak ya da?, sambil ngobrol dengan Gilang, Sule, bang Rokhman-karena mereka yang bisa bahasa jawa, gw menatap mereka dengan penuh penghormatan. Terima kasih beh,

di rumah babeh 3

 Setelah hujan agak reda, kami melanjutkan perjalanan. Entah sudah berapa kilo meter kami berjalan,. Katanya sih dari Bayah ke Sawarna sekitar 15 km, gilaaa,, sejauhh itu?/, baiklah , Jalan raya kemudian memasuki hutan, monyet-monyet hitam bergelantungan di dedahan bak penari sirkus, jalanan semakin menanajak, kadang menurun curam membuat kami ingin berlari-tak sabar. Barulah setelah 5 jam berjalan kaki, sampailah kami di pantai yang mbah google bilang secret paradise.

Untuk masuk ke pantai Sawarna, dari jalan raya harus melewati bebatuan kasar yang disusun menjadi sebuah jalan. Di kanan jalan, sebelum bertemu dengan bibir pantai, terdapat gua Langir. Saat masuk kedalam, guanya buntu dan terdapat bekas galian. Lalu nampaklah pantai Sawarna itu, pantai pasir putih, bibir pantai curam membuat ombak besar bergulung-gulung menghanyutkan siapa yang berani mendekatinya. Tebing-tebing curam di kanan pantai menjulang semakin membuat kami tepekur menikmati karunia tuhan ini. Subhanalloh.

pulau burung

tetep narsis meski cape banget

belokan menuju pantai sawarna dari jalan raya

gua langir

tepekur mensyukuri ciptaanNya

narsis di pantai sawarna

Hari semakin siang, masih ada satu destinasi terakhir yang coba kami kejar sebelum bersua dengan magrib. Tanjung layar, untuk menuju ke tempat ini terlebih dahulu harus melewati jembatan di desa Sawarna kampong cikaung dan membayar uang retribusi sebesar 2ribu. Setelah melintasi jembatan, kiri kanan jalan yang hanya bisa di lalui sepeda motor, berjejer home stay berbagai kelas, lalu melewati ke perkebunan PTPN VII hingga sampai di sebuah pantai berkarang indah. Sayang waktu kami kesana, air laut nya sedang pasang, sehingga ndak bisa kami mendekati 2 karang nan gagah yang berdiri sekitar 50 meter dari bibir pantai. Di kiri kanan si karang besar, berdiri tidak kalah gagah karang-karang kecil-mungkin setinggi manusia yang juga melindungi pantai dari terjangan ombak yang terus menghantam membuat suara bedebum yang keras.

jembatan gantung menuju tanjung layar

home stay sebelum tanjung layar

melewati kebun kelapa sebelum tanjung layar

we are di tanjung layar

Hari semakin sore, diputuskanlah kami akan menginap semalam lagi di desa Sawarna ini, sekalian bertanya pada penduduk tentang transportasi menuju Pelabuhan ratu. Masjid selalu jadi tempat incaran dimanapun kami berada, selain memudahkan dalam melaksanakan kewajiban, masjid acapkali mendatangkan rezeki yang tidak disangka-sangka, hehehe, #ngarep. Dan benar saja, setelah bersih2, ikut berjamaah magrib juga isya, niat awal mau menumpang masak nasi di rumah warga tepat disamping masjid, eh malah di tawari makanan ini itu plus diantar langsung ke masjid. Sambil menikmati hidangan, tau lah kami bahwa bapak yang menjamu kami itu memiliki anak lanang di fakultas perikanan IPB angkatan 47 kalo gak salah. Wah, pilihan yang sangat tepat bapak menyekolahkan anaknya. Setelah lulus maka ia harus mengembangkan desa ucapnya bangga. Jadi kita panggil babeh 4 untuk bapak ini. Malam ini kami pun semakin dekat satu-sama lain, perjalanan 3 hari ini sungguh teramat sangat berkesan untuk dilupakan, semua langsung memejamkan mata-kelelahan seharian berjalan kaki.

bersama tidur di mesjid, setelah di jamu babeh 4 di desa sawarna

Dan di pagi hari giliran bapak yang rumahnya di samping kiri masjid yang menjamu kami. Darinya kami mengetahui bahwa ingin sekali ia membuat sebuah kerajinan khas desa Sawarna ini. Maka berbekal pengalaman di beberapa daerah yang pernah kami kunjungi, kami memberikan masukan tentang kerajinan apa saja yang bisa dibuat. Ia begitu antusias menerima masukan kami. Dan mempersilahkan kami menghabiskan makanan yang ia jamukan. Alhamdulillah punya babeh ke 5.


sule dan monyetnya, eh burung hantunya, nyasar eta burungnya.

sederhana, tapi nikmat.

di mesjid Pelabuhan ratu dengan Babeh 1, sebelum pulang lagi ke Bogor

Tepat jam 7 pagi elf menuju Pelabuhan ratu sudah datang, jangan sampai telat ucap babeh 4 dan babeh 5 membangunkan kami tadi pagi. Karena elf tersebut hanya beroperasi sehari sekali pada jam 7 pagi. Kalo dari Pelabuhan ratu elf ke Sawarna beroperasi sekitar jam 12 siang juga sekali sehari. Diperjalanan semua terdiam, menikmati lamunan masing-masing, sadar sebentar lagi akan berpisah dan kembali ke rutinas di Bogor. Tapi di hati dan pikiran kami, petualangan 3 hari kemarin sungguh sangat luar biasa, dengan tulisan ini, akan kukenalkan kalian pada dunia, wahai para petualang pembelajar kehidupan. Kalian tidak akan pernah lelah untuk mencintai negeri ini dan belajar dari nya. Berterimakasih lah juga pada manusia di dalamnya yang masih peduli pada sesama, tidak mengedepankan ego seperti yang sering kita dengar dari berita di tipi.

Selamat hari kemerdekaan kawan.

Mess putra no 4, LAJ Jambi 17 Agustus 2013