Laman

Kamis, 26 Desember 2013

Budaya alam dan sejarah: Pagaruyung Batusangkar, part 1

Tanggal 4-11 Desember 2013 adalah jadwal libur dua bulanan gue. Sesuai rencana, gue mau menjelajah kota Medan dan sekitarnya bareng 3 kawan dari Bogor. Tapi pesawat gue terbangnya dari Padang, boleh lah gue bersilaturahmi dulu ke kota yang kaya wisata alam dan kulinernya ini. Dan pas benjet (baca: banget) kawan dari sini mau ngetrek ke Padang pake RX king. Mantabh!

Sebut saja namanya pak Budi. Duda yang selain jago berantem (juara karate nasional lho) juga jago masak. Perpaduan yang aneh. Milik bapak ini lah RX king yang akan kita bawa ke Padang, sekaligus membuang label duda nya bapak itu di Padang juga.

Sebelum berangkat, menyempatkan lah dulu kami berkunjung ke ibu angkatnya pak Budi yang kedua di Pulau temiang, Tebo, Jambi. Bapak ini memang ibunya punya tiga bro. Atu di Lampung, atu lagi di Makassar. Kereenn. Dan ibu kedua nya ini, pintar juga masak bro. Apalagi tempoyak nya itu, maknyuss dah. Dan selayaknya seorang tamu, pujilah masakan si mpunya rumah secara langsung. Senyum-senyum kegeeran dah sang ibu (catet nih etika makan di rumah orang)

Jam 10 pagi, baru kami berangkat ngeRX king menuju Batusangkar Padang. Rumah calon istri pak Budi disono soalnya. Ternyata perkiraan gue bener. Ini RX king borosnya minta ampun. Sebentar-sebentar minta isi ulang. Sekali isi bisa 7 ampe 8 liter. Busyyettt dah. Tapi yang penting happy men, pertama kali gue ke Padang men, cihuyy men, Padang ternyata panas men.

Nyampe lah kami di sijunjung Padang. Jarum speedometer RX king nya pak Budi gak bisa lagi dah bersua di angka 110. Nanjak berkelok-kelok eta jalannya. Tapi untungnya ada tukang sate Padang. Nyate Padang dulu kita (apa hubungannya coba).

Setelah ngocol (ngobrol sambil nyocol) sama si pedagang yang emang asli orang Pariaman, baru taulah gue kalo sate Padang itu ada dua jenis. Ada sate Padang panjang, dan sate Padang pariaman. Bedanya, sate Padang panjang memakai bumbu cabai merah keriting dan kunyit tua, sehingga kuah yang dihasilkan berwarna kuning. Selain itu, kuah sate Padang panjang sangat kuat rasa rempah-rempahnya. Sedangkan sate Padang pariaman, yaitu sate yang kita makan sekarang, memakai bumbu lada sebagai rempah yang paling dominan, sehingga membuat kuah berwarna merah. Dan berbicara mengenai rasa, pedes, pasti kuahnya. Daging sapinya pun lembut. Pas lah buat isi tenaga. Murah pula. 18 ribu udah dapet satu porsi sate Padang pariaman, teh manis anget sama kerupuk dua.

Perjalanan pun dilanjutkan, tapi eh tapi kite lupe mulut belum di kasi pencuci. Karena sabun gosok abis, eh ada warga yang jual durian.
“penumpang melapor kepada supir RX king, ganti!”
“ya penumpang, ada apa? Ganti!”
“tolong pak, itu di arah jam 11 diharapkan berhenti sejenak, untuk mencuci mulut, ganti!”
“86 pak”,   (sssttttt, jangan kasih tau sapah sapah ea, 86 adalah kode “oke” di perusahaan kami, pokoknyah ssstttt)

Murah tenan iki durian ne le, Cuma 15 rebu bisa dapet durian segede kepala Ivan gunawan lho. Yang kecil segeda batok kelapa, 5 ribuan. Dan weleh-weleh, tebel nian dagingnya. Manis pulak. Durian yang jatuh dari kebun warga kaya gini memang ajib dah. Mari kita lanjutkan perjalanan.

RX king dan tugu perbatasan jambi-padang

sate pariaman

makan durian kita
Kayaknya, pemandangan di Sijunjung kalau boleh gue bilang. Macam di gambar-gambar yang sering gue bikin waktu di alam Rahim dah. Banyak perbukitan, yang mengapit sawah-sawah di tengahnya. Plus aliran sungai, jalan aspal, petani lagi nandur. Subhanalloh dah. Terus nanti bakal ada pertigaan. Kalau belok kiri, ke arah Batusangkar, lurus ke arah Padang kota. Dan kemana kita? Woi Dora, peta gue balikin. Okeh, belok kiri kita pak Budi.

Nyampelah kami di hotel Pagaruyung Batusangkar jam 16.30. Cuma itu hotel termurah yang kami tahu di Batusangkar. Bayar 110ribu untuk kelas dibawah menengah. Kamar mandi di dalam, dua dipan dan satu meja rias. Mayaann. Di bagi dua, Cuma 55rebuan kan yak. Mandi, solat, terus ngecengin si uni resepsionis. Eh salah. Masang kembali tulang-tulang yang pada lepas gara-gara ngeRX king seharian.

Saat magrib, Kami pun solat di masjid depan hotel, lalu berkeliling Batusangkar untuk nyari makan. Dan apa coba yang kami makan? Nasi uduk. Koplak, jauh-jauh ke Padang makannya nasi uduk. Wong Jowo pulak si mas-masnya. Halah. Merasa terkecewakan, gue beli aja martabak kubang dan roti cane. Tau gak lu apaan itu?
Okeh karena maksa, gue jelasin dah. Cek aja deh disini http://rheezid.tumblr.com/post/25625991382/martabak-kubang-dulu-kini-dan-mungkin-bila-nanti hahha, cape nulis lagi mah.

Intinya, martabak kubang itu mirip martabak telur. Hanya bedanya entah gue gak tau bedanya, haha. Dan roti cane itu, adalah roti hambar yang dikasi keju atau coklat atau susu. Udah. Tapi enak ko. Gue jadi ingat kawan seKaKaPe gue dah pas di Banyuresmi Garut dulu. Junda namanya, dia bela-belain bikinin kita roti cane lho. Makasi junda. Dimana lu sekarang yak, sehat? Halah.

Dan beres keliling-keliling, ngewarkop sambil ngobrol dengan ibu yang punya tiga anak gadis. Pak Budi tahu aja tempat ngewarkop yang kece. Dan selalu, gue pesannya kopi susu. Kalau kopi item ngajak berantem lambung gue mulu. Tahulah saya kalau kata ibu warkop, orang Padang itu terkenal pelit dan itung-itungan. Yakah? Ibu itu sih yang bilang. Selebihnya kita ngobrol nikahannya pak Budi, tiga anak gadis ibu itu, dan tentu saja ngeceng ceng in gue yang masih bujang. ‘Orang Padang itu cantik-cantik lho mam,’ katanya. Gue cuma mesem-mesem aja. Tapi bener juga sih, scanan gue tadi siang, yah lumayan bening-bening sih. Whehehe. Kacanya. Pulang ngewarkop, Batusangkar asli dingin banget. Mengingatkan gue ke rumah di Garut. Apalagi dipan hotelnya lumayan empuk, tiduuuur. Eh, telpon-telpon dulu ding, baru ketiduran. 
hotel pagaruyung

tebing dari jendela kamar hotel

roti cane

martabak kubang
Pagi-pagi, destinasi paling yahut yang ada di Batusangkar yang wajib bin kudu dikunjungi adalah Istano Basa Pagaruyung. Tapi karena bukanya jam 9-10. Maka kami pun kongkow dulu di warung sony yang berada tepat di depan istano. Warkop yang semalam itu lho.

Dari warung inilah gue kenal dengan makanan khas Padang yang biasa di panggil salalauak. Atau salai ikan. Bentuknya bulat segede telur puyuh dengan kulit luar agak krispi dan didalamnya berisi ikan peda atau orang sini bilang maco kukai yang dihaluskan. Rasanya ya renyah gurih ikan lah. Belinya 5ribu sakambuik, atau segenggam tangan besar. Pas gue hitung sih ada 20an. Cucok lah dimakan bareng lontong sayur.

Ngomong-ngomong tentang Batusangkar. Suka banget dengan lingkungan disini. Kalau boleh, gue ingin bilang Batusangkar atau ibukotanya kabupaten Tanah datar ini punya konsep penataan kotanya, city meet nature. Daerah kota, dikhususkan berada di pinggir-pinggir jalan. Sedangkan di belakang-belakang rumah atau pertokoan, terhampar persawahan luas diapit oleh perbukitan nan hijau. Jangan lupa sungai-sungainya. Plus disini udaranya dingin. Jadi selalu segar mulu udaranya. Hemz, angkot pun gak terlalu banyak. Jadi pengen dah gue punya rumah disini.

salalauak

salalauak with lontong sayur

sawah di batusangkar

jalan batusangkar
Rumah gadang

Di Batusangkar, juga masih banyak rumah gadang. Tapi rumah gadang jaman sekarang, sudah terbuat dari tembok. Itupun diperuntukkan bagi kepentingan wisata. Sedangkan, rumah gadang yang sudah berumur puluhan hingga ratusan tahun, rata-rata sudah termakan usia dan malah ada yang dibiarkan rapuh tidak berpenghuni. Rumah gadang yang sudah rusak, tidak diperbaiki Karena telalu mahal biaya perbaikannya, bisa mencapai 1 milyar. Apalagi kalau hendak membangun rumah gadang baru, sulit mencari kayu. Sayang banget karena keterbatasan waktu, gue belum bisa grasak grusuk ke nagari-nagarinya (Desa-desanya).

Seperti kita tahu, rumah gadang atau rumah godang, adalah rumah tradisional suku Minangkabau. Orang sini juga sering bilang rumah bagonjong. Dan menurut tanya-tanya sama warga sekitar (baca mertuanya pak Budi) rumah gadang itu rumah adat bagi perempuan (paham matrilineal atau garis keturunan ibu). Maksudnya, anak laki-laki diharuskan tinggal di surau atau masjid untuk mengaji dan mandiri. Baru setelah dewasa mereka diwajibkan untuk merantau ke tanah orang. Laki-laki dianggap tidak berguna kalau tidak merantau dan belajar di tanah orang. Pantas, banyak warung Padang dimana-mana, eh orang Padang. Di samping rumah gadang, biasanya juga terdapat rangkiang atau lumbung padi. Mirip leuit di Baduy. Hanya kalau di baduy, di kaki lumbung padinya ada semacam kayu melingkar yang berfungsi mencegah tikus naik.

Mau tau lebih jauh tentang rumah gadang, bisa di baca di sini http://tentangrumahgadang.blogspot.com/p/test.html dan disini http://travel.kompas.com/read/2013/09/27/1216352/Rumah.Gadang.Simbol.Budaya.Merantau

rumah gadang

rumah gadang termakan usia

rumah gadang baru, dari tembok

kantor wali nagari (kantor desa)
bersambung ....
mess putra LAJ Jambi 25 des 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar