Laman

Minggu, 15 Desember 2013

di persimpangan jalan

kini,
aku berada di persimpangan jalan
duduk termenung menatap dua arah jalan
yang entah aku pun tidak tahu
akan kemana dua jalan ini membawa pergi

andai aku bisa untuk tidak memilih
tapi berbalik kebelakang pun tidak mungkin
apalagi berdiam diri terkusamkan waktu

baiklah,
aku memilih jalan yang kanan
ia tidak lurus, datar, terang, dan lapang seperti jalan kiri
yang memanjakan mata dengan panorama alamnya
ia hanya jalan setapak
dengan semak belukar bertumbuh liar di pinggiran
ia terjal dan berkelok-kelok
beratap langit yang bermuram durja

tak apa jika kalian mengatakan aku orang bodoh
sebelum ini, memang aku adalah orang bodoh
ketidak pantasan diri, berulang kali merenggut ruh teman seperjalanan
tapi biarlah,
selama Tuhan ada, dan akan selalu ada.
aku memilih jalan ini,
jalan yang menurutku akan indah di ujungnya

dan kau, ya kau!
elok nian rupa mu.
memanggil-manggil nama ku dengan suara melenakan jiwa
bahkan, kedua tangan mu terjulur lembut
seakan hendak menyambut dan memeluk ku.

langkah kanan ku pun terhenti.
aku mundur beberapa langkah,
terpaku di depan jalan yang kiri
tanpa bisa ku hentikan,
aku memejamkan mata,
menikmati bujuk rayu mu.
hingga tak sadar kaki kiri ku sudah terayun

aihh,
selemah inikah bangunan jiwa ku?
semudah inikah benteng pertahanan hati ku terhancurkan?

aku goyah,
aku bimbang,
aku ragu,
aku di persimpangan jalan.
apa yang harus aku lakukan, Tuhan?


Mess putra LAJ Jambi 15 des 2013

3 komentar:

  1. dari persimpangan aku tahu bahwa ada kiri dan kanan, depan dan belakang...
    silahkan pilih sesuai tujuan dan hati-hati dijalan,
    awas kelewatan....

    Jalan-jalan

    BalasHapus
  2. Aih, si bruder Luthfi suka bikin puisi.

    Ada kisah kuno ttg lelaki pencari pelangi.
    Syahdan seorang lelaki melihat pelangi. Mejikuhibiniu warnanya indah sekali. Ia terpesona. maka berangkatlah ia melanglang buana. Tujuannya satu: melihat dunia di seberang jembatan pelangi itu. Mendaki gunung menuruni lembah. Masuk hutan keluar ladang. Menyusuri pantai membelah samudera. Semua telah ia lakoni. Semakin jauh ia melanglang semakin jauh pula pelangi itu. Singkat cerita, ia pulang ke kampungnya. Betapa keget, haru dan bahagia dirinya. Di atas rumahnya melengkung pelangi dengan tujuh warna.

    BalasHapus