Laman

Rabu, 23 Januari 2013

Kak Ravi pembohong,


Kak Ravi pembohong,

                  Hari ini aku semangat sekali pergi belajar, bukan pergi sekolah, karena aku memang belum bersekolah.  Setiap tiga hari dalam seminggu, kampung kami kedatangan kakak-kakak mahasiswa. Hari senin belajar menghitung, hari jum’at belajar agama, dan hari minggu belajar kesenian. Tapi aku paling semangat belajar agama. Kakak yang ngajarnya pintar bercerita soalnya, aku kan seneng cerita.
Jam 1.30, anak kecil seumuran ku sudah mengerubungi kakak itu. Oya, aku belum kenalin nama kakak nya. Nama kakak itu adalah kak Ravi, asalnya dari Medan. Kata kak Ravi, Medan itu jauuuuh sekali. Harus naik pesawat kalau mau kesana. Ah, aku kalau udah besar pengin keliling Indonesia. Trus bisa ngebantu anak-anak kecil yang butuh pendidikan. Entar aku mau bercerita juga seperti kak Ravi ah. Kabulkan ya Allah, aminnn,

“assalamualaikum temen-temen”ucap kak Ravi menyapa. Kak Ravi itu kalau memanggil kami suka dengan kata temen, beda sama kakak yang lain yang manggil kami adek, bagiku, kata temen membuat kami dengan kak Ravi terasa lebih dekat.

“waalaikum salam kakak”, jawab kami serempak.

Semenjak kak Ravi sering bercerita, aku selalu duduk disampingnya. Perlu kegigihan lho untuk dapat posisi ini, soalnya banyak juga temen-temenku yang ingin duduk disamping kak Ravi. Biasanya aku selalu datang lebih awal, trus nunggu kedatangan kak Ravi di pintu madrasah, begitu kak Ravi datang, aku langsung gandeng tangannya. Dan kak Ravi selalu tersenyum padaku. Malah beberapa kali kak Ravi selalu ngasi permen atau coklat tanpa sepengetahuan temen-temen ku, seneng deh.

“ada yang ingat gak, kakak cerita apa minggu kemaren”,kak Ravi sekilas melirik ku, lalu menyapu pandangan ke temen-temenku.

“Tia tau, Tia tau!”jawab ku cepat ikut bersahutan dengan temen-temen yang lain,

“kakak cerita apa Tia?”

“kakak kemaren cerita anak singa yang mencari ibunya”jawabku mantap dengan semyum kecil manja.

“wah, pinter ya Tia,”tangannya mengacak-ngacak rambutku, aku selalu suka jika tangan kak Ravi menyentuh rambut lurusku.

“hari ini kakak mau cerita tentang seorang anak kecil bernama Mahatir, siapa namanya temen-temen?”

“MAHATIRR”jawab kami serempak.

“jadi Mahatir ini adalah anak yang bandel, tidak suka mandi,hayoo siapa yang tidak suka mandi disini?, hayoo ngaku,,hehehe”
Beberapa anak laki-laki tertawa kecil merasa tersindir, kalau aku selalu rajin mandi dong,

“trus dia suka melawan perintah orang tua juga temen-temen, hiii, kalau temen-temen kak Ravi gak boleh ada yang suka melawan orang tua ya,awas kalau ada, karena orang tua yang melahirkan kiii?
“taaaa”, ucap kami melanjutkan kata-kata kak Ravi.

“berarti Mahatir bukan temen kak Ravi dong ya?”Tanya Umar, temenku yang selalu duduk disamping lain kak Ravi, jika aku duduk di samping kiri kak Ravi, maka Umar duduk disamping kanan kak Ravi, selalu begitu.
“iya Umar, Mahatir bukan temen kakak saat itu, tapi akan jadi temen kakak nantinya,”
“owhh,”Umar semakin tertarik dengan cerita kak Ravi,

“suatu saat ayahnya Mahatir jatuh sakit temen-temen, dia tersambar petiirrr,duaarrrrrr”sontak kami kaget dan terus memfokuskan pandangan pada wajah kak Ravi,

“lalu ayahnya Mahatir lumpuh, semua anggota badannya tidak bisa digerakkan, bayangkan temen-temen jika kondisi kita lumpuh, kita tidak bisa makan sendiri, kita tidak bisa main, dieeemm terus di kasur, pokoknya orang lumpuh itu gak bisa ngapa-ngapain deh,”kak Ravi melanjutkan ceritanya

“gak bisa datang ke madrasah juga dong buat denger cerita kak Ravi ya?”tanyaku polos,
“iya Tia, makanya kita harus banyak bersyu….”
“kuuuuurrrrr”jawab kami serentak

“lalu saat Mahatir pulang, dia merengek ke ayahnya untuk dibelikan mainan, hayooo, ada gak disini yang suka merengek minta dibelikan mainan?”Tanya kak Ravi
Seperti biasa, temen-temen laki-laki ku terkekeh merasa tersindir, tapi aku juga kadang-kadang suka gitu juga sih, hehehhe.

“namun apa yang terjadi temen-temen, ayah Mahatir tidak bisa bergerak karena lumpuh tadi, ibunya pun menjelaskan kondisi ayahnya ke Mahatir. Mahatir tidak percaya, lalu ia tetap merengek dan menggoyang-goyang tubuh ayahnya. Karena terlalu keras goyangannya, ayah Mahatir sampai terjatuh dari kasur. Bruuukkkkk, Mahatir kaget melihat ayahnya tetap tidak bergerak saat jatuh tadi. Ibunya yang juga kaget mendengar suara jatuh, langsung berlari dari dapur dan mengangkat tubuh ayah Mahatir ke kasur lagi. Plaaaakkkk, ibu Mahatir dengan keras menampar pipi Mahatir”
Kami spontan memegang pipi kami masing-masing, lalu membayangkan bagaimana jika ibu kami menampar kami seperti Mahatir.

“Mahatir menangis kencang dan langsung menghambur memeluk ayahnya. Lalu Mahatir berkata sambil menangis,”ayaahhh, maafin Mahatir ayah, ayah jangan lumpuh, Mahatir janji gak akan bandel lagi, Mahatir janji ayah”, lalu ibunya juga ikut memeluk Mahatir dan ayahnya”

“kasihan ya ayahnya Mahatir,”ucap Latif, salah satu teman kami yang paling tinggi.
“makanya kita gak boleh bandel, nanti ayah kita sakit kaya ayahnya Mahatir, janji gak akan bandel lagi ya,”jari kelingking kak Ravi teracung ke atas,
“jannjjiii”kami ikut-ikutan mengangkat jari kelingking ke atas juga.

“nah, semenjak ayahnya Mahatir sakit, Mahatir jadi anak yang rajin, dia tidak melawan perintah ibunya, rajin sekolah, juga rajin membantu ibunya merawat ayah. Karena ayahnya sudah tidak bekerja, Mahatir juga ikut membantu ibunya berjualan gorengan, pokoknya Mahatir jadi pekerja keras untuk membantu keluarganya. Tapi jangan lupa, Mahatir juga sering berdoa setiap solat, mendoakan kesembuhan ayahnya”kak Ravi melanjutkan ceritanya.

“nah, setelah beberapa bulan, ayah Mahatir tiba-tiba sembuh dan bisa berjalan lagi temen-temen, Mahatir senaaang sekali. Lalu ayahnya berkata,”ini karena kerja keras mu nak merawat ayah, juga doa yang selalu engkau panjatkan setiap solat”.  Mahatir dan keluarganya pun menjadi keluarga yang lengkap lagi, mereka begitu bahagia.. Siipppp, ceritanya selesai temen-temen“

Setelah kak Ravi bercerita, kami kemudian belajar membaca Al-quran bersama-sama. Begitulah cara kak Ravi mengajar, selalu bercerita diawal, kemudian belajar agama setelahnya. Jadi kami selalu semangat untuk datang ke madrasah ini.
***
Pagi itu, seperti biasa, ayah pergi ke Kota menjadi supir angkot, ibu, aku dan Leni berkeliling kampung memasok kue buatan ibu ke warung-warung. Setelah agak siang, aku pergi belajar kesenian dengan kakak-kakak mahasiswa. Pulang menjelang sore, bersiap-siap untuk mengambil uang kue yang terjual di warung-warung. Hasil hari ini lumayan, kue dagangan ibu hampir habis terjual. Kadang sisa kue yang tidak terjual akan menjadi makan malam kami, itung-itung menghemat kata ibu. Ketika malam, aku dan Leni selalu main 
boneka di rumah, sambil menunggu ayah pulang membawa makanan.

“nak, tidur saja, nanti ibu yang menunggu ayahmu,”tegur ibu padaku dan Leni yang mulai menguap.
“tapi Tia mau nunggu ayah pulang bu,”ucap ku, dan Leni sudah tiduran di kursi.
“iya nanti kalau ayah pulang, Tia ibu bangunkan deh,”ujarnya lembut, aku tanpa berkata lagi langsung rebahan di atas kursi panjang.

Suara adzan subuh samar-samar mulai terdengar, aku yang sudah terbiasa bangun subuh langsung bangkit dan pergi ke kamar mandi sambil mengucek-ngucek mata. Setelah berwudhu, aku melirik ke kamar ibu dan melihat nya tidak ada, pasti mereka sudah ke surau pikirku. Aduuh,,Malas sekali solat subuh pagi ini, tiba-tiba teringat pesan kak Ravi, “jangan jadi orang malas, nanti jadi orang gendut,”,, hiiii, aku gak mau gendut.

Usai solat, aku menunggu di rumah sambil mengingat-ngingat hafalan surat pendek yang diajarkan kak Ravi. Pagi mulai menampakkan kehangatannya, namun ibu dan ayah belum pulang dari surau. Tidak biasanya mereka seperti itu, aku langsung menyusul ke surau dan tidak menemukan mereka. Setelah bertanya ke penjaga surau, dia bilang ayah dan ibutidak sholat di surau subuh ini. Degg. Jangan-jangan ayah belulm pulang dari semalam, trus ibu menyusul ke Kota, pikirku. Saat aku pulang ke rumah lagi, pamanku tiba-tiba datang dan langsung memeluk ku.

“ada apa paman?, ayah ibu kemana?” tanyaku tanpa mengerti apa-apa. Leni sudah mengapit lenganku, juga tidak mengerti

“ayah dan ibu kalian belum bisa pulang, paman kesini untuk menemani kalian, ini ada nasi uduk, makanlah”jawab paman sendu, kami yang belum makan dari semalam, langsung menyambar nasi uduk dari paman.

“paman, ayah dan ibu baik-baik saja kan”,Tanya ku sambil mengunyah nasi uduk.

“iya, mereka baik-baik saja”. Jawab paman mendekati kami.
Hati ku mulai tenang mendengarnya, walau tidak tahu apa yang sedang terjadi.

“paman pergi sebentar ya Tia, mau kerumah pak haji dulu, kamu jaga Leni”. Ucap paman buru-buru keluar. 
Aku yang tidak mengerti, hanya bisa mengiyakan. Di rumah, kami cuma berdua sekarang.
Hingga siang paman belum pulang, aku mulai cemas menerka-nerka apa yang terjadi. Baru menjelang malam, suara diluar terdengar ramai, BRAAK, suara pintu dibuka, dan masuklah serombongan orang menggotong laki-laki dengan alat semacam keranda. Aku dan Leni begitu kaget, saat mengetahui bahwa laki-laki itu adalah ayah kami. Ibu menghambur memeluk aku dan Leni yang masih terpana,

“ayah kenapa bu,”mata ku tajam menatap selang-selang yang mengalirkan air dari plastik dipasang disamping ayah.

“ayah, ayah koma Tia”pelukan ibu semakin erat, tangisnya semakin membuncah,
Aku tidak tahu apa itu koma, tapi ayah terlihat seperti tidak bergerak, apakah koma itu lumpuh, seperti yang diceritakan kak Ravi. Kalau iya, berarti ayah akan sembuh, karena aku tidak pernah bandel, dan selalu bekerja keras. Oya, aku juga ingat kata-kata kak Ravi,

“tenang bu, Tia akan bekerja keras merawat ayah, dan akan selalu berdoa untuk kesembuhan ayah, pasti Allah akan mengabulkan doa Tia”jawabku tenang setelah mengingat-ngingat kata-kata kak Ravi. Entah kenapa ibu malah terus menangis.

Selama seminggu aku terus merawat ayah seperti Mahatir merawat ayahnya juga, setiap solat aku juga selalu berdoa untuk kesembuhan ayah seperti Mahatir juga. Kakak-kakak mahasiswa datang menjenguk ayah kecuali kak Ravi. Katanya kak Ravi sedang praktek di hutan. Kondisi ayah menurutku semakin baik, jika aku memegang tangannya, pasti jarinya mengetuk-ngetuk tanganku seakan ia tahu anaknya ada disampingnya, aku tidak sempat lagi pergi belajar ke madrasah karena harus merawat ayah di rumah, sedangkan ibu harus bekerja lebih banyak untuk menggantikan penghasilan dari ayah.

“ayah, ayah mau kemana”tanyaku, melihat ayah perlahan berjalan entah kemana.
“ayaaahhhh”aku mulai berlari mengejar ayah,
“ayahhh, tunggu Tia ayahhh”jarak ku semakin dekat dengan nya
“Tia anak ku, jaga ibu dan adek mu ya”ucap ayah lembut,tatapan nya menenangkan sekaligus mengagetkan.

“Astagfirullahh,ini hanya mimpi,,ayahhh“,setelah bangun, aku langsung  berlari ke kamar, dan disana terlihat ibu sedang menangis memeluk ayah,

“ibu, ayah kenapa?”, aku mendekati ibu dan memeluknya, lalu ia membalas memeluk ku dan mengusap air mata di pipinya,
“ayah, sekarang sudah sehat nak, sudah kembali kepada Allah sang pencipta” jawab ibu lirih,
“maksud ibu ayah meninggal?”tanyaku meyakinkan apa yang dimaksud ibu, ibu tidak menjawab dan hanya mengeratkan pelukannya.

Ya Allah, kenapa jadi seperti ini, kata kak Ravi, kalau kita tidak bandel, dan bekerja keras merawat ayah kita yang sakit, terus mendoakannya setelah solat, ayah kita akan sembuh, seperti ayah nya Mahatir yang bisa berkumpul lagi. Trus, kenapa Engkau malah mengambil ayah ya Allah, tangisku mulai pecah, kak Ravi, apakah cerita kak Ravi bohong,?, katanya tidak boleh bohong, tapi kenapa kak Ravi bohong, kenapa?, percuma aku solat, percuma aku berdoa kalau jadinya seperti ini, ayaahhh, kak Ravi bohong ayah, aku memeluk ayah dan menangis sejadi-jadinya.

Tiba-tiba aku sudah berada di kursi ruang tamu, sepertinya setelah menangis aku tertidur, di kursi satunya lagi kulihat Leni juga masih tertidur, suasana semakin sepi, kamar ayah sudah kosong, oiyaa, ayaahh mana, aku langsung berlari keluar menuju kepemakaman, ibu terlihat berjalan diapit oleh bibi-bibiku. Aku langsung berlari dan memeluk ibu. Aku digendong dipelukannya. Entah kenapa di umurku yang masih kecil ini, aku dipaksa harus mengerti apa yang terjadi.

Setelah kematian ayahku, aku akui solat ku mulai bolong-bolong, aku terlalu sibuk membantu ibu mencari uang, aku sudah tidak sempat berdoa lagi, buat apa, doaku tidak akan dikabulkan, dan aku juga sudah tidak pernah datang ke madrasah lagi selama sebulan ini. Buat apa mendengar kakak-kakak yang suka berbohong.

“Asslamualaikum,”terdengar suara laki-laki mengetuk pintu,
Aku sedang membuat adonan kue di dapur, ibu yang membuka kan pintu,
“saya Ravi bu, yang suka ngajar di madrasah,”jawab laki-laki itu, dia bilang Ravi,?
“Tia, ini ada kak Ravi, sini nak temui kakak nya”ibu memanggilku.
“Tia gak mau bertemu sama pembohong bu”jawabku ketus,

Kulihat ibu menghampiri ku dan membujuk ku untuk menemui kak Ravi.
“kalau bukan karena ibu, Tia gak mau ketemu kakak”aku memulai pembicaraan, oh tuhan, wajah meneduhkan itu, begitu nyaman aku memandangnya, ingin sekali aku menangis dipelukanya, menumpahkan segala kesedihan, tapi tidak, Tia gak suka pembohong,

“adik ku Tia, maaf jika kak Ravi  baru bisa menjenguk Tia dan keluarga hari ini, kak Ravi harus menyelesaikan urusan di kampus kak Ravi dulu”ucapnya selalu tenang,

“ngapain juga kak Ravi harus kesini, gak penting, kakak bohong kan cerita tentang Mahatir, liat kak, ayahku meninggal, padahal aku sudah melakukan apa yang kakak bilang, aku tidak bandel, aku bekerja keras merawat ayah, aku berdoa sehabis solat, tapi lihat kak, Allah malah ngambil ayah dari Tia,”ucapku tetap ketus,

kenapa aku jadi seperti ini ya tuhan, bukankah kak Ravi yang ngajarin ibu bikin kue dan ngasih modal awalnya, bukankah kak Ravi juga yang membantu ayah menjadi sopir angkot di kota, kak Ravi juga yang membelikan seragam dan sepatu untuk sekolah ku tahun depan, tapi aku gak peduli, sekali pembohong tetap pembohong.

“Tia, kakak memang telah berbohong, maafkan kakak,”ia menghela nafas sebentar,

“nama kakak adalah Ravi Mahatir Muhammad, Tia benar, ayah kak Ravi sebenarnya juga meninggal ketika seumuran Tia, seperti dicerita kak Ravi, kenapa kak Ravi bilang ayah ka Ravi hidup bahagia, karena memang beliau bahagia Tia, beliau bahagia bertemu dengan Tuhannya dalam keadaan baik. Walaupun secara lahir ayah kak Ravi sudah tidak ada, tapi bagi kak Ravi dan ibu kak Ravi, beliau selalu ada disini, di hati ka Ravi.” Kak Ravi mulai menangis, aku tidak bisa berkata apa-apa, hanya menunduk, jadi ayah kak Ravi juga meninggal, sama kaya aku.

“sekali lagi, maafkan kak Ravi yang telah berbohong pada Tia, ayah selalu berpesan pada kak Ravi untuk bekerja keras dalam hidup, namun tidak melupakan solat dan berdoa, karena hanya dengan solat dan doa kak Ravi bisa lebih dekat dengan Allah dan ayah kak Ravi,ayah kak Ravi selalu menjadi motivasi kak Ravi untuk selalu membantu orang lain. Karena nanti dari kebaikan kita, pahalanya akan sampai kepada ayah, kak Ravi berharap, Tia juga seperti itu, jadi anak yang solehah yang selalu mendoakan orang tuanya, dengan begitu, ayah Tia akan bahagia disana”

Tak kuasa, aku langsung melompat kepelukan kak Ravi, menangis tersedu-sedu menumpahkan segalanya, aku telah salah menyebut kak Ravi pembohong,

“maafakn Tia kak Ravi”, isak tangisku semakin kencang,
“sudah-sudah, jagoan gak boleh nangis lagi, katanya mau jadi penjaga gawang,”kak Ravi mengacak-ngacak rambutku, hatiku tenang dan bersemangat lagi, ayah, Tia janji akan selalu berdoa untuk ayah, semoga kelak kita bisa bertemu di SurgaNya. Aminn.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar