Laman

Minggu, 22 September 2013

Masih kurangkah aku bersabar ya Rabb?. Sebuah kesabaran tingkat tinggi


Ini cerita asli, fakta bukan rekaan. Tentang seseorang yang menurut saya juga kalian adalah pantas dijadikan sosok panutan. Alloh berulang kali menguji kesabraannya. Atau memang cobaan sudah menjadi pasangan hidupnya?. Begitu lekat sekali mereka merayap dalam setiap nadi kehidupannya dimanapun ia berada. Tapi Ia akan terus tabah dan sekalipun tidak akan menyalahkan Tuhan.

Hari ini, Jam 10.30 kabar itu datang. Sebenarnya kebakaran adalah sebuah kewajaran terjadi di hutan. Tapi kalau yang terbakar adalah sebuah rumah kecil berukuran 4x4, beralas tanah, berbilik kayu, beratap seng, berruang 4 (dapur, ruang tamu, gudang, dan kamar dilantai dua sekaligus mushola sekaligus tempat ngaji anak2). Sungguh menurut saya sebuah ketidak adilan Tuhan. Hey, siapa saya berani menjudge takdir Tuhan. Baiklah mari kita ralat. Bukan ketidak adilan, tapi cobaan yang begitu berat yang kalau saya ada di posisi demikian. Sudah pasti saya akan merajuk pada Tuhan. Bagaimana tidak, rumah berkayu yang lebih mirip gubuk itu adalah teman hidupnya selama ini. Sudah 7 tahun, rumah gubuk itu menjadi pelindungnya dari sengatan matahari, dari guyuran hujan, juga dari amukan gajah. Dan kini, melalui mulut seorang bapak muda yang diberitahukan oleh istrinya lewat pesan singkat. Rumah gubuk itu ludes terbakar, tanpa sisa.

Si kakek tua itu tertnduk lemas. Kalau kalian ingin tahu namanya, mbah Nur. Umurnya sudah 60 tahunan. Bahunya terguncang, bulir2 air mata tak lagi bisa ia sembunyikan. Beberapa temannya yang juga adalah pekerja harian di divisi Litbang perusahaan ini langsung mengusap, mendekap bahu ringkih mbah nur. Oya, saya belum ada saat itu, masih di kantor. Saat saya ke lahan lagi, mereka sudah pulang, menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan.

Mbah nur sesampai nya di rumah nya yang telah habis, hanya bisa menatap kosong, lalu meracau tentang semua isi rumahnya. “bensin ada 5 liter, beras belum di buka juga 5 liter, minyak sayur 2 liter, racun rumput 5 liter, sarung 10 pasang, baju ganti, baju koko, dan kitab bawa dari pesantren dulu.”begitu racauannya berualng kali. “Kitab kuning, hanya itu yang membuat saya menyesal dengan kejadian ini, kalo yang lainnya aku ndak menyesal” ucap mbah nur masih dengan tatapan kosong. Mbah nur pun menumpang di salah satu rumah warga. Tadinya dia mau tinggal di mushola.

Kalian perlu tahu, ketegaran ini bukan dibentuk setahun dua tahun, tapi selama 60 tahun hidupnya. Mari saya ceritakan beberapa ksiah lain yang membuat saya geleng2 kepala. “Ya Alloh, cobaan saya tidak ada apa2 nya ternyata”.

Dari kecil, mbah nur sudah di didik di lingkungan pesantren. Saya tidak bisa menceritakan masa kecilnya, yang jelas ia sangat mencintai kehidupannya di pesantren. Pasti ada sesuatu?, ini belum berhasil saya korek. Saat umur 30an, barulah mbah nur keluar dari pesantren, lalu membantu pamannya di Papua di pabrik tahu. Jauh banget merantaunya nih. Oya, saya pernah denger, mbah nur pernah bercerita mengenai cobaan entah keberapanya saat masih di pesantren, saat PKI dibenci oleh semua kalangan. Ia dihadapkan pada dua pilihan, dibunuh atau membunuh. Urusan nya tentang nyawa ini broh, beraatt. Mocong senjata tentara sudah menusuk2 di pelipis mbah nur. Bersama teman2 nya dia dipaksa memegang cerulit. Jelas maksudnya untuk menggorok orang2 PKI yang tertawan dihadapannya. Bunuh,, atau di bunuh?, (saya kurang paham, kenapa bisa mbah nur di culik oleh tentara, mengorek informasi dari orang tua itu harus sabar). Keringat sebesar kelereng mengucur deras dari balik baju kaosnya.

Moncong laras senapan semakin menusuk ke pelipis, tidak ada pilihan lain. ALLOHU AKBAR,! Teriak mbah nur lantang, juga serak hingga tercekat. Darah segar anyir muncrat ke muka, ke baju, ke tangan, ke crulit, ke tanah ke setiap sudut yang mbah nur lihat. Di hadapannya sudah roboh lelaki berkemeja putih, bukan, sekarang kemejanya sudah memerah. Mbah nur juga teman2nya mengambil darah dari tanah dengan telunjuknya, lalu menjilatnya. Menurutnya, dengan seperti itu, bayang2 wajah yang ia gorok tidak akan mengganggunya.

Dari papua, mbah nur merantau ke Lampung. Ini juga belum berhasil di korek alasan merantau ke lampung. Pasti, ada something yang terjadi di papua. Yang jelas, di Lampung, mbah nur sudah tidak sendirian lagi. Di umur nya yang ke 40, Ia menikah dengan gadis 20 tahun lebih muda darinya, baru lulus Aliyah katanya. Lalu cobaan datang lagi, setelah 1 tahun umur pernikahan, karena ekonomi yang tak kunjung membaik, mbah nur saat itu punya 7 hektar kebun kopi. Tapi belum menghasilkan, masih kecil2 tanemannya. Membuat istri nya tidak kuat dan memilih dengan atau tanpa ijinnya merantau ke Malaysia. Dan dari yang aku dengar, hingga detik ini, si istri tidak pernah sekalipun kembali pada mbah nur, meninggalkannya dengan anak yang masih kecil. Mbah nur lalu menitipkan anak semata wayangnya kepada keluaga si istri di Palembang. Ia tidak bisa membesarkan anak sekecil itu sendirian.

 10 tahun mbah nur tinggal di Lampung, kebun kopi yang sedang matang-matangnya siap dipanen, tiba2 Tuhan berkehendak lain. Pada tahun 1987, Kebun kopinya kebakaran tepat saat kemarau berkepanjangan melanda. Tidak ada lagi yang bisa diselamatkan. Hanya kretek ranting terbakar yang tersisa. Nelangsa?, jelas!, tapi ia harus tabah, ilmunya dari pesantren mengatakan tak boleh ia menyalahkan keadaan. Lalu temannya yang orang Bengkulu, yang sama2 lahannya kebakaaran mengajaknya ke Bengkulu, mencari bukaan hutan baru.

Pindahlah mbah nur ke Bengkulu, membuka hutan seluas 5 hektar untuk ditanam sawit. Anaknya?, sesekali mbah nur menjenguknya di Palembang. ‘Pendidikannya akan lebih mudah’ Pikirnya menghibur diri. Jadilah ia sendiri lagi mengurus sawitnya sambil bekerja ke sebuah perusahaan sebagai buruh harian.

 Sawitnya perlahan sudah bisa menghasilkan, meski belum seberapa. Mbah nur juga mulai membangun rumahnya lagi, belum permanen, tapi pondasinya sudah ia tanam. Beberapa tahun cukup lah untuk membuat sebuah rumah kebanggan yang akan ia dan anaknya tempati nanti. Lagi-lagi Tuhan berkehendak lain. Seakan memang cobaan tidak bisa dijauhkan dari kehidupan mbah Nur. Bukan kebakaran kali ini. Pada tahun 2002 apa 2004 gtu, lupa. Gempa bumi beserta tsunami menghantam Bengkulu. Rumah yang perlahan ia bangun hancur, begitupun sawit yang sudah ia tanam selama 10 tahun lebih. Hancur tak bisa diselamatkan.

Ya Alloh, 20 tahun di Lampung dan di Bengkulu bukan waktu yang singkat. Tapi apa yang terjadi sekarang?. Semua kembali ke titik nol?. Sia-sia kah perjalanan hidupnya?. Musibah datang silih berganti meluluh lantakan semua kekuatan mbah Nur. Apalagi umurnya sudah tidak muda lagi. “Ya Alloh, musibah lagi musibah lagi.” Keriput di pipi dan mulutnya bergerak2 pelan saat ia berkata. Tapi bukan mbah Nur kalo mudah menyerah dan tidak bisa bersyukur.  Untung lah katanya, masih ada 2 hektar yang tidak terlalu habis di terjang Tsunami. Ia jual ia punya kebun sawit seharga 175 juta. Beserta sisa tanah yang luluh lantak dan rumah yang bergaris retak2 besar di dinding. Lalu merantau lagi bersama teman nya ke Jambi. Ke sebuah hutan ynag masih benar2 alas. Harus ia buka dari nol kembali. Dan harus ia mulai semuanya dengan kesendirian.

Pada tahun 2005, ia membuka hutan seluas 15 hektar, tapi yang berhasil ke garap hanya 5 hektar. Ia mulai lagi menanam bibit, ia mulai lagi menjaga dari babi dan gajah, ia mulai lagi membangun rumah Kecilnya, ia mulai lagi memupuk, mendangir, menyiram, mengerahkan semua kekuatan yang masih tersisa demi masa depannya. Atau lebih tepatnya demi masa depan anak semata wayangnya. Ya, anaknya lah yang menjadi motivasi terkuatnya hingga bisa bertahan dari segala cobaan. Anaknya lah yang membuat ia rela bekerja membanting tulang dari jam 4 pagi hingga magrib menjelang, anaknya lah yang membuatnya rela hidup sendiri menabung dan menabung setiap hari. Merelakan semua kesenangan yang bisa ia dapat demi pendidikan anaknya. Aihh, sekuat itukah kasih sayang seorang ayah?

Tapi ya Rabb, Engkau selalu punya kehendak yang tak pernah bisa kami mengerti. Hanya Engkau yang tahu masa depan dan hal gaib. Mbah nur kemalingan di rumahnya, di gubuk yang hari ini ludes terbakar. 3 juta rupiah hilang dalam sehari. Itu jumlah yang sangat besar sekali untuk ukuran seorang pekerja harian. Saya tahu ia mengumpulkan uang itu dari payahnya bekerja di perusahaan juga merawat 5 hektar sawit yang panennya masih sedikit. (oya, 10 hektar lainnya karena tidak bisa ia garap, dan tidak sempat ia jual, sekarang di klaim oleh suku anak dalam, jadi Cuma 5 hektar inilah tanah mbah nur).

Rumah mbah nur memang agak masuk kedalam, tidak pas di samping jalan seperti rumah lainnya. Sehingga ada kejadian apapun di rumahnya, susah diketahui orang lain. Dan saat pulang dari bekerja, mbah nur mendapati rumahnya sudah di bobol, dalamnya berporakan, uang yang ia simpan di bawah piring, di dapur tak terlalu sulit untuk ditemukan pencuri. Padahal katanya uang itu akan dikirm untuk sekolah anaknya yang mau lulus SMA. Mau marah?, sama siapa?, Tuhan?, bukan sifat mbah nur menyalahkan Tuhan. ‘Yowis aku nrimo saja’ ucapnya dengan pipi yang semakin kempot saat berbicara.

Kalian tahu, kalo kalian membandingkan cobaan yang Alloh berikan pada kalian dengan cobaan yang Alloh berikan pada mbah Nur, sungguh tidak ada apa2 nya. Saya malu sekali kemaren sempat mengeluh ini itu, kehilangan ini itu sedangkan mbah nur? terus bangkit dan tetap bersyukur menjalani hidup. Seperti hari ini, meski rumahnya ludes terbakar, dia tetap bersemangat untuk hidup, kembali bekerja di perusahaan ini untuk rencana-rencana Alloh lainnya, dan senantiasa bersyukur dan berbaik sangka atas kehendakNya.

Terima kasih mbah nur, kesabaran mu memang kesabaran tingkat tinggi. Kami akan belajar untuk tidak mengeluh menghadapi cobaan, kami akan belajar untuk bisa bersabar dan bertawakal. Berbaik sangka pada Alloh seberat apapun cobaan yang datang. ‘Ah, kalo belum dicoba kaya cobaan mbah nur, bukan sebuah cobaan yang berat’. Kata itu yang akan selalu kami ingat.

Seperti yang sering Alloh katakan, cobaan adalah proses kita naik tingkat. Semoga kesabaran mbah Nur Alloh balas dengan sesuatu yang berharga, Syurganya. Amminn,,

Mess putra Jambi, 21 september 2013

di rumah mbah nur, saat sebelum berangkat kerja

rumah 'gubuk' kecil mbah nur dari luar, agak masuk kedalam dari jalan

saya saat berkunjung dan menginap semalam di rumahnya, ikut makan bareng

tungku dan dapur rumah, diperkirakan saat itu mbah nur lupa mematikan sempurna tungkunya, hingga terjadi kebakaran

yang nemenin mbah nur sehari-hari

2 komentar:

  1. Menyentuh dan penuh inspirasi, berapa kali kita mengeluh dalam hidup kita, atau setiap hari kita mengeluh? Ya Rabb, semoga Kau ganti semua milik Mbah Nur dengan yang lebih baik.

    BalasHapus