Laman

Kamis, 22 Agustus 2013

Ijinkan kupanggil adik ya naftalie?


Cerita ini juga gw buat awal tahun 2012, seperti cerpen gw lainnya, Cuma imajinasi semata, dan masih kacau tulisannya, tapi gw seneng bacanya, seperti yang gw bilang sebelumnya, melihat tulisan nya bertumbuh dari tahun ke tahun.
Ijinkan kupanggil adik ya naftalie?
Ada yang berbeda dengan sore ini, bukan karena langit memancarkan pesona keemasan menyisakan segaris cahaya matahari. bukan pula karena jalan laladon-kampus yang biasa dijejali angkutan umum tepat di sekeliling pabrik tekstil ato lebih dikenal pabrik susu sore ini aman lancar dan damai. Tapi karena sore ini ia akan berkunjung kerumah seseorang, yang akan ia anggap sebagai adik. Bukan adik kandung sih. Hanya seseorang yang mengerti akan dirinya, dekat dengan dengannya, dan selalu menghiasi hati dan hari-harinya.. Pacarr??? Owh bukan. Meski kadang bingung juga ketika orang-orang menganggap mereka pacaran. Bingung apakah ia sedang membohongi hatinya, atau memang yang ia butuhkan hanya kedekatan dengan seorang adik perempuan. Maklum, ia dilahirkan dari orang tua yang menurunkan gen laki-laki semua. Sudah dua tahun, dan ia senang datang kembali ke Bogor,

Ia Teringat saat pertama kali bertemu saat masa ospek dulu, dengan malu-malu seorang perempuan berkerudung hitam bersama teman seangkatanya mendekati ia yang sedang duduk dan mengobrol asik. Mau tak mau, ia mengalihkan pandangkan ke arah kerumunan perempuan tadi yang sudah berada didepannya. Ia tahu, mereka akan meminta tanda tangan dari senior sebagai salahsatu tugas ospek saat itu. Dari semua perempuan yang meminta tanda tangan darinya, hanya satu yang benar2 ia ingat nama dan wajahnya. Naftalie cristi arifin. Bukan karena wajahnya yang seperti daun sirih, putih mulus, mata agak sipit, hidung agak mancung dan bibir tipis, tapi karena ia menyandang nama cristi dan ia berjilbab. Mungkin ia dulunya Kristen, atau orangtuanya Kristen, ato entahlah pikirnya.
Malamnya, ada sms masuk dengan nomer belum ada di kontak hp.

Assalam mualaikum, kak hanif, saya naftalie, yang tadi minta tanda tangan, mau nanya kak, kalo ospek itu emang penting ya kak,? Ada temen yang gak mau ikutan ospek soalnya, makasih ka,
sambil berjalan dari kampus setelah seharian mengatur persiapan untuk ospek besok, ia kemudian membalas sms itu.

Wa alaikum salam, salam kenal naftalie, ospek itu bukan hanya penting, tapi wajib dilalui, pengalaman sebelumnya, orang2 yang tidak ikut ospek, biasanya akan terkucil di jurusan, jadi biasanya pergaulannya sedikit, dan nilainya pada anjlok, kasih tau temen mu, kalo ada masalah, segera hubungi kaka, biar gak dikucilin nanti.

Ada perasaan senang  ketika ia mengirim sms. Ia tahu, naftalie dapat nonya karena semua senior pasti menuliskan no hp nya saat dimintai tandatangan. Ah, Cuma sekali nge sms doang ko jadi ge er gini. Pikirnya dalam hati.

Dan anehnya setelah sms ospek tadi, ia dan naftalie malah jadi sering sms an, entah hanya menanyakan mata kuliah, pinjam buku, nanya dosen ini gmana, ujian di jurusan susah gak? hingga lama-kelamaan nanyanya malah sedang apa ka hari ini?, gimana kabar nya? ato kak, aku mau ke bioskop lo, mau ikut gak kak,?.
Aneh, dari awalnya nama panggilnya saya jadi aku atau naf saja, dari awalnya formal dan kaku, jadi akrab dan sedikit manja, ia malah dipanggil kak nif, bukan kak han seperti dulu, biar deket gtu nama panggilnya, nif naf, hehehe, senyum nafalie melebar saat bertemu beberapa waktu.

Kenangan itu melesat meletup letup dalam ingatan hanif, seakan dalam angkutan umum yang ia tumpangi ada parodi film yang sedang ia lihat. Lalu ia teringat lagi. Kenangan selanjutnya yang membuat perubahan dan penegasan apa yang ia dan naftalie harapkan.
“Kak hanif, besok temenin naf nyari buku ya,”
“sama siapa aja?”
“berdua aja ka?”
“jangan berdua dong, ramean aja, bis itu kita nonton, kaka yang traktir nontonnya deh”
“yah kaka mah,” selintas mulut naftalie terlihat datar,
“ya udah deh kak, nanti naf ajak desi sama lia ya”
“nah gtu dong, ya udah, kaka pulang dulu ya,ada yang mau dikerjakan”
“iya ka, hati-hati kesandung batu, janji di traktir nonton ya,, hehehe”
“iya cantiikkk”  mukanya bersemu merah, saat hanif mengucapkan kata tadi,

Besoknya, kami sudah berjubel naik angkutan umum untuk pergi ke mall yang ada toko buku dan bioskopnya. Hanif duduk disamping naftalie, lalu lia dan desi, tak henti-hentinya desi dan lia menggoda ia dan nafftalie sepanjang penjalanan, pasangan serasi lah, nanya ko ngajak lia dan desi lah padahal bisa berdua aja berangkatnya, ato “kak, traktir makan juga dong?”, celetuk desi. Gelak tawa menemani perjalanan mereka, lalu masih ia ingat, wajah naftalie yang agak memerah sepanjang perjalanan itu juga. Ya, ia mulai mengerti.

Mereka langsung mengunjungi tumpukan buku komik saat sampai di toko buku, terlihat desi dan lia asik mencari-cari buku komik yang tidak dibungkus plastik, artinya komik itu bisa dibaca ditempat tanpa harus membelinya.
“kakak melihat-lihat  buku pertanian dulu ya”
“aku ikut kak,” naftalie meninggalkan kedua temen nya yang sedang asik dengan dunia imajinasi dari buku komiknya.
“ia, nanti kami nyusul” ucap desi dan lia bersamaan tanpa memalingkan mata dari buku komiknya.
“kakak mau nyari buku apa?” tanya naftalie sambil ikut-ikut menggeser-geser buku sambil sesekali dilihat judulnya
“buku sawitnya iyung pahan, buat persiapan kakak taun depan ke Kalimantan”jawab hanif sambil tetap menggeser-geser buku
“lha, kakak mau ke Kalimantan?, berapa lama? Ntar naftalie sendiri dong?,gak mau ah.” Dengan mata tajam naftalie memandang hanif yang masih asik mencari buku sawitnya.
“kan ada desi sama lia, ada mamamu juga, ada leni, dan kita masi bisa telpon-telponan,” hanif abaikan tatapan mata naftalie
“naftalie gak mau kak, naftalie senang disamping kakak, naftalie,,,,, naftalie” ucapan nya terhenti,,
“naftalie kenapa” hanif mulai menatap mata naftalie yang menunduk
“naftalie sayang kakak” pelan, tapi masih terdengar,

hanif sudah menyangka akan seperti ini jadinya, cepat atau lambat, tapi ia adalah seorang laki-laki yang memegang teguh janjinya, ia berjanji pada ayahnya, bahwa ia tak akan pacaran sebelum menikah, dan ia juga tak akan meninggalkan solat, sunah maupun wajib. Dua janji itu yang selalu ia pegang saat pertama kali merantau dari tasik ke bogor, untuk bersekolah. Dua janji itu yang kini menyumbat mulut hanif untuk bilang “kak hanif juga sayang naftalie”, terlalu besar jasa seorang ayah untuk dilanggar janjinya.
“maaf naftali, kakak juga sayang naftalie, tapii….”kata hanif kelu
“tapi apa ka” wajah naftali menyiratkan keingintauan dan kepastian
“tapi kakak sayang naftalie hanya sebatas teman, atau kalo boleh lebih, sayang seorang kakak terhadap adiknya, maukah naftalie jadi adik kaka?”
“Gak Mau!, naf pengen kakak sayang naf, sebagai seorang kekasih kak, jangan sebagai adik” mata naftalie mulai berkaca, dan kata-katanya tegas.
“gak bisa naftalie, gak bisa” mata mereka masi bersitatap tajam
“kenapa kak? Kenapa kak?, apakah karena sudah ada wanita lain dalam hidup kakak” satu dua tetes air mata mulai meluncur membasahi pipi lesung nya.
“gak ada naftalie kecuali ibu, hanya kakak gak bisa menjadi kekasih naftalie, ada alasan yang tidak bisa dijelaskan sekarang”
“aku kecewa ka, aku kecewa sama kakak, kakak gak gentle, kakak pengecut gak mau jelasin alasan nya, aku pulang kak!” lebat sudah pipi naftali oleh rembesan air matanya
“naftalie,? Kenapa?, “ serempak lia dan desi menghampiri ia dan naftalie,
“kak hanif, kakak apain naftalie samping nangis gini?” desi memeluk naftalie dan menatap wajah hanif
Tebata-bata hanif berkata “ kakak ha.. hanya menjawab pertanyaan naftalie” matanya gak berani menatap tatapan tajam desi
“ayo Pulang!, “ isakan naftalie mulai memantik perhatian pengunjung lain
“Ya udah, kita pulang naf, “ lia yang sudah disamping naftali menggandengnya dan mulai keluar dari toko meninggalkan  hanif yang masih mematung di depan rak buku pertanian.

Semenjak itu, naftalie, pasti menghindar jika bertemu hanif, sebenarnya hanif ingin mengsms atau menelpon, atau menjelaskan semuanya ketika ada kesempatan bertemu, ia terlalu kerdil, dan kekerdilan itu telah memuncak setelah 2 bulan. Akhirnya ia putuskan untuk mendatangi rumah naftalie, karena kampus sudah mulai libur .

Ia ingat, saat pertama menemukan rumah naftalie yang tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kecil, pagar dengan cat hijau, serasi dengan taman yang selalu dirawat, taman nya sih tidak besar, tapi siapapun yang melihatnya pasti akan mengatakan, kayaknya romantis duduk di kursi memandangi taman bunga ini.

“ASSLAMUALAIKUMM, “ ucap hanif setengah berteriak.
“waalaikum salam, cari siapa? “ terlihat seorang ibu tidak berkerudung, dengan kalung salib di lehernya.
“saya hanif bu, ini rumah nya naftalie ya bu?, naftalinya ada? Ucapku sambil melongokan ke atas pagar yang tingginya sedada
“iya, wah naftalinya lagi ke supermarket, ayo masuk, minum teh dulu sambil nunngu naftalie pulang” ibu itu membukakan pagar dan menyalami hanif.
Dalam ruang tamu yang juga sederhana, tidak banyak perabotan, hanya ada cat orange, kursi dan meja, lukisan seorang pria, dan bunga dari bambu dipojok ruangan setinggi perut orang dewasa, kesan nyaman dirasakan hanif saat itu.
“kamu hanif kakak kelasnya naftalie ya? Naftalie sering cerita “ ibu itu yang belakangan biasa dipanggil bu sarah membuka percakapan sambil menyodorkan segelas teh dan setoples kue coklat.
“iya bu, kakak kelas nya hanif,  emang naftalie cerita apa aja bu?”

Belum juga terjawab pertanyaan hanif, teriakan salam terdengar dari luar. Tak sabar, hanif menebak kalo itu memang naftalie, dan gelisah ia menunggunya. Dan benar, ternyata itu naftalie
Sebenarnya naftalie langsung tau kalo tamu yang datang adalah hanif, motor dengan plat no sudah naftalie kenal, tapi ia malah nyelonong dan langsung pergi ke dapur. Kalo saja gak ibunya panggil, pasti naftalie tidak mau bertemu hanif.
“ibu ke dapur dulu yak, ayo hanif, cicipi kue coklat nya, naftalie lho yang bikin” ibu mempersilahkan hanif sambil bergegas ke dapur.
“ngapain kak kesini?, aku uda punya pacar sekarang ka”naftalie mulai membuka mulut
“terserah naftalie sudah punya pacar ato belum, yang jelas, kakak mau jelasin kenapa waktu itu, didepan toko buku pertanian kakak gak bisa jadi kekasih naf”
“gak penting ka,mending kakak pulang deh, bikin tambah sakit aja ngeliat kakak” ketus dan matanya tidak berani menatap hanif
“menurut kakak ini penting naf, okeh, setelah ngejelasin ini, kakak akan pulang, ijinkan kakak jelasin dulu nif, biar tenang, sebelum kakak pergi ke Kalimantan minggu depan, besok mau ke tasik, jadi harus sekarang naf”
“katanya tahun depan, dasar pembohong, yauda cepet jelasin” naftali mulai menatap hanif
Hanif agak terenyuk juga saat dibilang pembohong, ada alasan kenapa kepergiannya ke Kalimantan dipercepat. Tapi bukan mau ngejelasin itu Ia datang ke sini. Dengan tulus, hanif menatap naftali sebelum ia mengalihkan tatapannya ke langit2. Ia lalu menarik nafas dalam-dalam dan mulai bercerita.
“ini mengenai janji laki-laki naf, janji seorang anak terhadap ayahnya, 2 janji yang selalu kak nif pegang sampai sekarang, walau ayah ka nif sudah tiada sebulan yang lalu”
“innalillahi wainnailahi rajiun. Maaf aku, naf ikut berduka, naf gak tau kalo, “ naftali mulai berpikir, ko ia  sampai gak tau, wah, pasti saat itu ka hanif sedih banget, setau ia, kak hanif sebulan yang lalu sidang skripsi, pasti berat kondisi nya saat itu, dan naftali gak ada disampingnya,,,ia mulai iba pada lelaki di depannya.
“yasudah, memang gak ada yang dikasih tau, itu juga alasan kenpa pergi ke Kalimantan dipercepat, gak mau menyusahkan ibu setelah kepergian ayah, ingin mandiri malah harus sudah bisa memberi” hanif menarik nafas dalam2 lagi
“oya, seperti yang ka nif katakan, ini mengenai janji, dulu sebelum merantau ke bogor, ayah mengatakan, hanif, ingat kamu harus berjanji untuk tidak pacaran sebelum nikah, dan jangan sekali-kali meninggalkan solat, dua janji itu naf, yang menyumbat mulut kakak untuk bilang kak hanif juga sayang naftalie”
“berarti kak han sayang naftalie juga dong?”
“ia, sebagai kakak kepada adiknya”

Sebenarnya naftalie tau, kak hanif juga sayang pada nya, sebagai seorang kekasih tentunya, tapi kak han  memaksa mengganti makna sayang itu menjadi seperti sayang terhadap adiknya, ya sudah lah, toh naf juga sudah punya pacar, barangkali dengan menjadi adik nya kak hanif, bisa sedikit meringankan beban nya.
“okeh deh kak, naftali ngerti, naftalie mau jadi adik kakak,”
Hanif seketika itu juga tersenyum, ingin ia memeluk naftalie, tapi ia langsung teringat ayahnya,
“makasih ya naf, ”
“iya sama-sama”
“ya uda, kakak pulang dulu, mau siap-siap ke tasik, pamit ke ibu ya”
“lha ko cepat-cepat, gak kangen apa 2 bulan gak komunikasi, hehehe, “
“kangen si, nanti dah, sebelum ke Kalimantan, kakak pengen ngabisin waktu seharian sama naftalie, mau kan? Hanif senang dengan senyum indah naftalie,
“iya telpon aja nanti,”
“ibunya gak diajak nih? hehe“ ibu naftali menghampiri kami dan menyodorkan setoples kue
“ini buat keluarga dirumah,katanya mau ke tasik besok”
“iya bu, makasih banyak”

Dan hari ini ia akan bertemu kembali dengan keluarga naftali, 2 tahun sudah ia di kalimantan, dan 2 tahun juga naftalie bisa menjadi adik angkatnya hanif, menghiasi hidup hanif dengan ocehan dan sms pengingatnya, menghibur nya disaat kena marah bos, ato menangis saat tau ia sakit dan tidak ngasi kabar. Meski hanya lewat sms dan telpon, namun semua terasa indah. Baiklah, semoga tuhan menakdirkan kami selalu seperti ini pikirnya.

Bogor, Maret 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar