Laman

Kamis, 22 Agustus 2013

Kedewasaan



Ini juga cerita dibuat tahun 2009,  mungkin udah satu semester di asrama TPB IPB, tulisan ini tercecer di kertas map kuliah gw, dari pada nanti ilang, mending gw ketik-tanpa edit, jadi punya bukti bahwa tulisan kita bertumbuh ya da?, setelah gw baca, kayanya ini kenangan masa kecil gw dah, jadi fakta dong ya. Mungkin. Yang jelas gw perlu dua kali baca cerita ini ampe mengerti maksudna, hahaha,

KEDEWASAAN,
Semilir angin dengan lembutnya menyisir rambutku yang belum kurapikan, burung-burung memanjakan telingaku dengan kicauan suaranya yang merdu. Pohon-pohon dengan gemulainya menari melawan belaian angin sepoi-sepoi, menerbangkan serangga-serangga yang dari tadi mencoba untuk hinggap di dahan kekarnya. Langit yang begitu cerahnya ikut memberikan sentuhan eksotis dalam kanvas alam ini. Tak luput juga bau dedaunan yang diterbangkan angin membuat hatiku damai dan tentram. Kata teman-temanku melihat pemandangan dari dalam jendela kamar asrama adalah hal membosankan. Bagiku, pemandangan itu merupakan potret kehidupan masa kecilku, dimana aku tumbuh menjadi anak yang harus kuat dan menyatu dengan alam.

Desa kecilku terletak di kabupaten Garut Jawa barat. Walaupun tidak seterkenal Bandung dan Jakarta, Garut adalah kebanggaan terbesar keluarga kami. Ayahku adalah orang banten. Kata orang, banten adalah tempatnya ilmu hitam, tapi menurutku, Banten adalah kota dimana aku mendapat identitas sebagai keturunan orang besar. Semua kakek buyutku adalah orang hebat. Ayahku sering bercerita tentang kelihaian kakekku yang bergelut dengan 9 harimau memperebutkan sebuah cincin mustika, dan kakekku adalah pemenangnya hingga ke 9 harimau tadi takluk. Karena itu, Ayahku selalu mengajariku tentang pentingnya beladiri dan kemampuan memanfaatkan alam.

Sejak kecil, aku selalu diajaknya untuk ikut pergi ke hutan, sekedar mencari kayu bakar atau memancing sambil berenang di sungai deras. Tapi sekarang sepertinya hal itu tidak pernah terjadi dengan adik-adikku. Peralatan serba otomatis menggeser kegiatan masa kecilku.

Ketika libur sekolah, aku selalu menyempatkan diri untuk bisa berpetualang menyusuri perkebunan dan hutan di desaku, tepatnya di bawah kaki gunung Cikuray. Disana ada jembatan yang menurut kakekku dibuat oleh orang belanda, hingga sekarang jembatan itu disebut sasak walana (jembatan belanda). Di jembatan inilah tempat aku selalu berteriak sekencang-kencangnya untuk menghilangkan penat setelah ujian sekolah.
Waktu itu seperti biasa, ketika libur sekolah dasar, aku dan teman-temanku merencanakan bermain ke sasak walana. Semua barang-barang dari mulai nasi timbel, pisau, bahan2 untuk membuat rujak dan sebagainya sudah tersedia di tas kami. Orang tua juga sudah merestui kami yang haus akan petualangan. Dan seperti biasa pula, ketika pulang kami selalu kompak untuk berenang di kolam ikan yang ada di kampung sebelah. Tanpa lepas baju, tanpa lepas celana, kami langsung melompat tak ada beban. Setelah air kolam menjadi keruh barulah kami berhenti, itu juga kalau tidak ada pemilik kolam yang selalu sedia dengan lidinya memukul-mukul kami ketika bermain riang di kolam. Kami pun pulang ke rumah masing-masing dengan keadaan sungguh mengenaskan, baju super kotor, badan super bau, dan pengalaman super seru. Hanya itu kegiatan weekend kami para petualang cilik desa.

Waktu pun telah berlalu, kini aku menjadi sosok yang tak pernah ku bayangkan, sosok yang dulu kuanggap sangat menjengkelkan karena sering memarahi anak kecil, sosok yang tak mau menganggap anak sebagai orang yang sederajat, inilah aku. Pemuda yang merindukan cinta, kasih sayang dan petualangan. Sering kali ku pikir, apakah aku siap menjadi dewasa, apakah aku siap dengan keseimbangan fisik, mental dan ilmu yang ku raih. Hanya satu jawaban yang selalu memenuhi isi kepalaku, aku harus siap dengan segala yang akan terjadi dengan kedewasaanku. Karena itu akan mengantarkanku menuju sebuah asa yang selalu ku kejar, asa yang selalu terbang dari pohon keberhasilan ke pohon keberhasilan yang lain.

Masa kanak-kanak menuju dewasa adalah proses alamiah manusia, siapapun itu akan mengalaminya. Tapi sering kali dalam tahap-tahap perubahan masa itu selalu dibarengi dengan gejolak jiwa, gejolak ingin dianggap sebagai seorang pemuda yang sudah siap dengan amunisinya. Dan ini tidak terlepas dari dukungan orangtua yang mengajariku berdiri.

Angin, burung, daun, pohon dan langit yang berawan putih adalah jembatan bagi pikiranku untuk menerawang hal yang telah terjadi, baik itu perubahan kedewasaan atau petualangan hidupku. Karena keadaan ini bisa menghadirkan memori yang telah lama ku pendam yang bisa menguatkan jiwaku. Walaupun dulu aku tak mengerti apa yang terjadi di relung hatiku, kini sedikit demi sedikit ku kumpulkan kunci-kunci yang salah satunya akan mengantarkanku menuju masa depan. Mungkin orang lain tak akan mengerti. Tapi buatku, semua yang terjadi adalah air yang mengalir yang arah dari air itu kita yang mengatur. Seperti system irigasi yang apabila kita mengalirkan airnya ke arah yang benar, yaitu ke sawah, maka air itu menjadi berkah bagi kita dan orang lain. Jadi apa yang terjadi buatlah seperti saluran air, dimana itu semua menjadi berkah bagi kita dan orang di sekeliling kita.

Perlahan burung menghilang dari pandangan mata, menandakan aku harus pergi mencari kepingan masa depan yang harus kususun. Read Kuliah.
Asrama putra TPB IPB, 5 Maret 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar