Laman

Kamis, 22 Agustus 2013

Maafkan aku paman!, kisah si Pencuri cilik


Maafkan aku paman!, kisah si Pencuri cilik.
Ya Tuhan,!! Tidak terlambat kah aku meminta maaf. Kini tangan yang sering aku kecup saat akan pergi jauh, semakin keriput. Langkahnya semakin terbatas daya ayunnya. Mulutnya semakin susah berucap, Apalagi daya pandang juga daya ingatnya, sudah pasti semakin kabur.
Maaf kan aku paman,! Maafkan kesalahan masa kecilku.

Halaman rumahnya tetap sama, pohon mangga dekat pintu pagar, meneduhi lapangan kecil tempat biasa kami belajar sepeda dulu. Pohon belimbing yang dulu pendek, kini sudah menjulang tinggi dan sering menimpuki orang yang lalu lalang di jalan dengan buahnya-dahannya merindangi jalanan depan rumah soalnya. Hanya cat rumahnya yang aku lihat berubah. Dulu orange jeruk, sekarang orange kesemek membusuk, kusam kecoklatan, entah apa warna asalnya. Setelah memasuki rumah, perabotannya tetap sama, lemari sepinggang yang diatasnya tertata tivi 21 inch, sofa santai yang sering aku gunakan menonton tivi juga masih terdiam merapat ke tembok membentuk sudut siku-siku dengan lemari. Dan lihat, rupanya gantungan baju itu masih ada di atas sofa. Seketika ingatanku melesat melompati ruang dan waktu, mengenang sebuah titik balik hilangnya sebuah candu di masa kecil dulu.

Bagiku, mencuri adalah candu. Mungkin sudah selevel candu merokok. Orang tua dengan pamanku memang sangat dekat. Saking dekatnya, aku sudah berani mencuri uang di rumah pamanku. Sering aku menunggu rumah hingga sepi, mengendap-ngendap kamar, meraba-raba saku baju celana ayah atau paman yang tergantung, melesakan tangan ke dalam tas ibu atau bibi, atau mengintip dibalik baju yang terlipat dalam lemari. Semua aku lakukan demi mendapat jatah uang jajan berlebih. Tidak pernah kah ketahuan?, owh tidak, ada trik-trik tertentu lah. Rumah harus selalu dalam keadaan sepi, ambil uang yang kecil aja (2 ribu, 5 ribu, paling gede 10 ribu, jangan lebih dari itu-nanti curiga).

Hari itu, candu mencuri ku sedang kambuh. Eskrim, ingin sekali aku membeli eskrim yang ada di iklan hari minggu pagi di indosiar. Aiihh,, detik berlalu begitu lambat rasanya, menunggu rumah yang tak kunjung sepi. Jelaslah ini hari minggu, semua pada rehat di rumah. Agak siang, karena tak tahan lagi aku memutuskan pergi ke rumah paman, barangkali disana sepi. Saat ku buka rumah paman, tidak ada orang. Pergi ke dapur, kamar mandi, ruang tamu, ketuk2 kamar, juga tidak ada orang. Senyum pun melebar sinis saat ku pandang celana bahan tergantung di atas sofa santai depan tivi. Lalu sambil berdiri di atas sofa, aku mulai menggerayangi setiap saku celana-berharap ada beberapa lembar uang ribuan disana.

“nyari apa mam?”suara berat mengagetkanku dari belakang, wajahku langsung terasa panas.
“aaa, nyari ,, euuhhh, gunting kuku pa”, jawabku gelagapan, kaget menatap mata paman yang sering aku panggil Apa’, panggilan yang sama untuk ayahku-saking dekatnya. ‘Bodoh,! Mana ada gunting kuku di saku celana,’ sesal ku dalam hati
“nih gunting kuku mah” ia menyodorkan gunting kuku dari atas meja, aku menerima sambil tangan gemetaran. Beginikah rasanya tertangkap basah, begitu susah menyembunyikan ekspresi bersalah.

Ku dengar paman mengehela nafas, lalu sambil duduk dia berkata lembut. “gak baik hen mencuri  itu,” belum selesaikan ia menasihatiku, aku sudah berlari keluar dari rumah paman, pulang, eh bukan, saat itu aku takut paman mengejar ke rumah, jadi aku pergi ke rumah teman, bahkan sampai menginap semalam disana.

Bagiku hari-hari setelah itu begitu merana, keluarga kami sudah sangat dekat, jadi yang namanya saling bersilaturahmi telah menjadi sebuah kebiasaan. Aku selalu menghindar saat paman maupun bibi sedang bertandang ke rumah, sebisa mungkin ngumpet malah, atau pergi ke luar rumah -entah kemana- yang penting gak ketemu paman. Baru saat malam-itupun kalo paman sudah tidak ada, aku berani pulang. Begitupun saat di ajak bertandang ke rumah paman, pasti aku menolak dengan alasan sakit perut lah, mau ngerjain PR lah dan alasan lainnya yang biasa dipikirkan anak berumur 10 tahun. Aku begitu tertekan, serasa menjadi buronan. Benar kata orang, punya kawan seribu masih sedikit dari pada punya musuh satu. Hampir dua bulan aku dan paman tak pernah secara langsung bertatap muka.

Perlahan aku mulai terbiasa menghindar, tapi masih selalu ngerasa bersalah. Jangan tanyakan tentang candu mencuriku lagi, pyuurr hilang sudah, tak berani lagi aku mencuri. Selepas pulang sekolah, seperti biasa aku langsung mengucap salam, lalu masuk ke ruang tamu-untuk menuju kamarku memang harus melewati ruang tamu. Tatapan itu, ya Tuhan, kenapa aku gak curiga tadi saat melihat sandal carvil kulit di teras rumah, itu kan sandal paman, dan kini paman menatapku sambil tersenyum, tersenyum?, masihkah paman mau tersenyum setelah sering kucuri uangnya?, ada ayah ibu disana, ya, pasti paman sudah cerita tentang kejadian itu pada mereka,

‘Hendi, sini kamu nak”ucap ibu memecah lamunan, sebenarnya ingin sekali berlari ke luar rumah, tapi badan dan pikiranku sudah lelah menghindar, lebih baik aku berterus terang dan meminta maaf, aku langsung mendekat dan duduk di samping ibu, masih tertunduk malu. Ayah bertanya padaku kenapa tidak mau ketemu paman lagi. Aku hanya bisa menjawab dengan mata berair dan gigi gemeretuk, tidak ada kata sikit pun yang keluar.

“Hendi, paman mau minta maaf telah ngebentak dan marahin Hendi, kacanya udah paman ganti, jadi udah gak apa-apa sekarang”, ucap paman memulai percakapan, aku bingung, ngebentak?, kaca?, apa yang paman maksudkan, mulut ku masih kelu bertanya.

“jadi kang Gufron, Hendi ini 2 bulan yang lalu mecahin kaca lemari di rumah, terus paman marahin dia, ngebentak dia, akhirnya Hendi ngerasa bersalah dan gak berani main ke rumah lagi, bahkan gak pernah mau bertemu paman”, ucapnya lagi, menjelaskan pada ayahku yang masih tidak ku mengerti.
“tuh Hendi, paman udah minta maaf, sekarang kamu yang minta maaf sana”ucap ibu sambil mengangkat daguku dengan tangannya, membuat ku lepas menatap paman beruban didepanku. Apa yang terjadi?, aku ingin menangis-tapi tidak keluar air mata, lalu dari mulutku gelagapan keluar kata permohonan maaf karena telah mecahin kaca-yang sebenarnya tidak pernah aku lakukan.  Setelah itu buru-buru aku masuk kamar, lalu tidur, berharap mimpi akan menghilangkan bebanku.

Seminggu setelah drama minta maaf paman, aku mulai berani mau diajak ke rumah paman, tentu masih harus bareng keluarga lah, tapi itu sudah menjadi kemajuan hubunganku. Aku juga tidak perlu lagi menghindar saat paman bertandang ke rumah. Lama-lama, kami pun sudah seperti biasa lagi, malah semakin dekat, semakin aku menganggapnya orang yang pantas aku hormati setelah ayah dan ibu. Paman pun selalu membantu keluarga kami, membantu aku masuk perguruan tinggi di Bogor malah dengan menyumbangkan uang tabungannya untuk biaya pendaftaran. Tak luput juga pernikahanku, ia begitu semangat mencari kan mobil pinjaman untuk arak-arakan ke tempat sang mempelai wanita. Semakin banyaklah jasanya yang tak mungkin bisa aku balas.

Sekarang, saat aku telah dianugrahi label seorang Ayah oleh Tuhan, aku berpikir bahwa kepergoknya mencuri masa kecil dulu oleh paman, adalah sebuah momen titik balik. Aku gak tau apa yang akan terjadi sekarang kalau Tuhan tidak menakdirkan aku kepergok nyuri, seperti yang aku bilang, saat itu bagiku nyuri sudah menjadi sebuah candu, pusing kalo sehari gak nyuri. Aku bersyukur Alloh memberi kesempatan sedari kecil menghapus kebiasaan burukku.

Oya, belakangan aku tahu, bahwa saat aku ditanya ayah kenapa menghindar dari paman, ayah dan ibu sudah tahu kalau aku mencuri di rumah paman. Mereka ingin aku sendiri mengakui kesalahan ku di depan ayah, ibu dan paman. Tapi sepertinya paman tidak tega melihat air muka ku yang berubah menjadi seperti kepiting rebus dan hampir mau nangis, ia rela berbohong demi aku, bocah yang tidak tahu diri.
Kini, diusianya yang ke 60, aku membisikan kata maaf itu, takut semuanya menjadi terlambat,

apa’, maafkan Hendi apa’, suka mencuri uang apa’, maaf Hendi baru berani mengakui sekarang”, aku langsung memeluknya, buncah tangis tak tertahankan lagi mengalir. Ia tidak berkata apa-apa, karena kata sudah begitu mahal untuk di ucap. Hanya tangisan serta balasan pelukan kerinduan yang ia lakukan, bak seorang ayah memeluk anaknya.

Mess putra no 4, LAJ JAMBI, 21 Agustus 2013


2 komentar:

  1. Membaca blog ente serasa berlayar ke negeri dogeng, dari petualangan sampai percintaan ada disini...bagus dan semoga tetap berkarya meski berada di istana atap langit. oya, background blognya mirip di film oblivion nya tom cruise ya..
    salam kenal dari jakarta.

    BalasHapus
  2. suka istilah nya, 'istana atap langit,'
    makasi mas lanang, ato abu afkar? ta tunggu apdetan blog ente ya,
    wah, kaya na maniac film jg nih, kebtulan aja nemu background macam gt,
    salam jg dari jambi

    BalasHapus